Dicoding's Blog

Tag archive: android

Membuat Aplikasi Android dengan API Agnosthings di Unity

Kita akan belajar Cara membuat Aplikasi Android dengan API Agnosthings di Unity

Agnosthings adalah sebuah platform yang membantu developer membangun solusi IOT end-to-end, termasuk aplikasi yang terhubung, dan produk-produk cerdas. Platform ini mengurangi beban pengembangan produk IoT dan tentu saja juga mengurangi biaya, risiko, dan yang paling penting, deliverability. Agnosthings memfasilitasi pertukaran data antara perangkat yang terhubung, IoT Cloud, analisis data dan visualisasi, serta komponen ekosistem lainnya. Kita akan belajar Cara membuat Aplikasi Android dengan API Agnosthings di Unity.

 

Persyaratan yang harus dipenuhi

  • Unity 5 atau di atasnya, Android SDK dan NDK yang sudah terinstall
  • Koneksi Internet
  • Akun Agnosthings (dapat mendaftar gratis di http://agnosthings.com/index.html)

 

Deskripsi Project

Terdiri dari 2 aplikasi yaitu Aplikasi Simulasi dan Aplikasi Monitoring.

  • Aplikasi Simulasi berfungsi untuk menggantikan perangkat IoT dalam menghasilkan data yang akan dikirim ke Agnosthings. Data yang dikirim dapat berupa data digital dan Analog.
  • Aplikasi Monitoring berfungsi sebagai penerima data dari Agnosthings, berupa data digital dan analog.

Continue reading

Tiga Karya Terbaik Developer Indonesia Menangkan Lenovo Virtual Reality Challenge 2016

19 hari, 36 karya, dan 106 developer berlomba untuk ciptakan game virtual reality lewat Lenovo Virtual Reality Challenge

 

Tak hanya penggiat teknologi asing yang sedang ramai membicarakan teknologi mutakhir Virtual Reality (VR), sejumlah pengembang aplikasi (developer) lokal juga membuktikan kemampuan mereka dalam membuat game VR melalui tantangan “Lenovo Virtual Reality Challenge” yang diselenggarakan oleh Lenovo Indonesia bersama platform jejaring pengembangan aplikasi mobile, Dicoding. Setelah proses penjurian dari seluruh karya yang terkumpul, tiga games dinobatkan sebagai pemenang. Masing-masing pemenang mendapatkan 30,000 XP yang dapat ditukar dengan berbagai rewards menarik di Dicoding.

Continue reading

Musim Hujan Telah Tiba, Waspada Banjir …!!

Indonesia adalah negara yang dilewati garis khatulistiwa dan memiliki iklim dua musim, yaitu musim kering, atau biasa disebut musim kemarau, dan musim basah atau musim penghujan. Sebagai masyarakat Indonesia tentunya kita telah beradaptasi dan menyesuaikan kegiatan keseharian kita dengan konsekuensi iklim dua musim tersebut. Sebagai contoh saat musim penghujan tiba, dikarenakan kebiasaan dan manajemen perairan yang kurang bagus, berakibat munculnya berbagai masalah salah satunya adalah Banjir.

Untuk menghindari terjadinya banjir, manajemen perairan mutlak diperlukan untuk mengatur aliran air. Termasuk diperlukannya data irigasi atau bendung mana yang perlu dibuka dan ditutup. Namun dalam keadaan terdesak, jika semua wilayah terjadi hujan dan semua saluran telah dioptimalkan pun, bisa jadi banjir tidak dapat dihindarkan lagi. Untuk itu diperlukan sistem peringatan dini (Early Warning System) yang dapat memberikan peringatan jika genangan air mencapai ketinggian tertentu sehingga masyarakat sekitar aliran sungai dapat mempersiapkan diri untuk segera evakuasi jika terjadi banjir.

Continue reading

Marbel Belajar Membaca: Aplikasi Gratis untuk Berantas Buta Aksara di Indonesia

mbb
Menyambut “Gerakan Masyarakat Membaca” yang dicanangkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan hari ini, Educa Studio turut mengajak masyarakat untuk belajar membaca dengan Marbel Belajar Membaca, sebuah aplikasi edukatif yang memudahkan pengguna dalam mengenal huruf, mengeja suku kata, hingga membaca sejumlah kosakata disertai gambar dan animasi yang menarik. Meski dirancang untuk anak usia 6-8 tahun, pemanfaatan aplikasi Marbel Belajar Membaca tak dibatasi usia sehingga warga belajar yang berusia lanjut pun bisa mengasah kemampuannya dengan memanfaatkan aplikasi ini.

Dalam aplikasi tersebut, materi disajikan dalam tampilan yang menarik, dilengkapi audio visual dan gambar animasi untuk membuat pembelajaran menjadi lebih menyenangkan. Selain itu, pengguna juga dapat mengasah kemampuan melalui permainan edukasi (games) yang disediakan, seperti bermain menebak suku kata, bermain katangkasan membaca, dan memisahkan suku kata. Semua ini dapat dimanfaatkan secara gratis (tidak berbayar) dengan mengunduh aplikasi Marbel Belajar Membaca pada ponsel pintar dengan sistem operasi Android atau iOS.

“Aplikasi Marbel Belajar Membaca kami rancang sebagai sarana pendidikan membaca yang mudah dipahami dan menyenangkan untuk semua kalangan, khususnya anak-anak,” tutur Andi Taru, CEO Educa Studio.

Dalam laporan yang dilansir Ditjen PAUD dan Dikmas Kemendikbud tahun 2015, tercatat bahwa jumlah penduduk buta aksara nasional masih tersisa 3,76 persen atau sekitar 6.007.486 orang di akhir tahun 2014. Data tersebut menunjukkan kemajuan pendidikan keaksaraan (basic literacy) yang cukup baik dalam menurunkan angka buta aksara dari 4,03 persen penduduk atau sekitar 6.165.406 orang di tahun sebelumnya.

Adapun wilayah yang menjadi prioritas penuntasan tuna aksara Kemendikbud adalah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Papua, Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Barat. Tantangan yang dihadapi adalah menjangkau dan memantau upaya penuntasan tuna aksara di daerah-daerah pelosok dengan kelompok penduduk yang ditargetkan juga telah berusia lanjut.

Selain melalui program pendidikan pendidikan keaksaraan dasar yang telah disiapkan oleh pemerintah, elemen masyarakat lainnya juga memiliki tanggung jawab untuk turut memberantas buta huruf melalui metode-metode yang kreatif dan inovatif dalam menjangkau seluruh penduduk di pelosok tanah air.

“Kami berharap Marbel Belajar Membaca dapat dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat sehingga mampu berkontribusi terhadap penuntasan tuna aksara di Indonesia,” lanjut Andi Taru.

Educa Studio juga meluncurkan fitur tambahan berupa materi belajar eja nama buah, eja nama sayur, eja warna, dan eja nama hewan. Selain penambahan fitur, Educa Studio secara konisiten melakukan optimasi performa dari Marbel Belajar Membaca, antara lain dengan meningkatkan standar rekaman suara dengan teknologi terkini sehingga suara menjadi lebih jernih serta menggunakan Intel NDK untuk versi Android agar kecepatan aplikasi menjadi lebih baik.

Saat ini aplikasi Marbel Belajar Membaca telah diunduh oleh lebih dari 350,000 kali. Untuk mulai menggunakan aplikasi ini, pengguna ponsel dapat mengunduhnya di Play Store dan App Store pada tautan berikut: https://play.google.com/store/apps/details?id=com.educastudio.marbelmembaca dan https://itunes.apple.com/us/app/marbel-membaca/id961468131?ls=1&mt=8.

Android Module #9 : Gridview

Pendahuluan

Modul ini dibuat untuk rekan developer sekalian di Indonesia yang ingin memulai untuk mempelajari cara membuat aplikasi mobile berbasis Android. Modul ini dibuat oleh Sidiq PermanaGoogle Developer Expert, sekaligus Intel Android Software Innovator dan pencetus Developer Mengajar. Modul ini hadir atas kerjasama Dicoding dan Intel. Apabila anda ingin mempelajari lebih lanjut mengenai Intel dan Android, anda dapat mengakses Intel Developer Zone.

Aplikasi yang dibuat dengan Android bisa dihasilkan dari penggunaan berbagai cara, misalnya dengan Builder (AppInventor), HTML5+CSS3+JS (Phonegap, Intel XDK, Sencha), Native (Eclipse, Android Studio), dan lain-lain. Salah satu tools yang disarankan oleh google adalah menggunakan Android Studio, seperti yang digunakan pada modul ini.

Semoga modul ini dapat bermanfaat bagi rekan sekalian dan Selamat Berkarya!

Continue reading

Pora dan Jalak akan membantu masyarakat Indonesia memahami kekejaman di balik perdagangan satwa liar

pic

 

Indonesian Society for Animal Welfare dan Dicoding.com membuat pendidikan humanis lebih menarik bagi kalangan muda dengan kehadiran Pora dan Jalak

 

JakartaPerkumpulan peduli satwa Indonesian Society for Animal Welfare (ISAW) akan meminta bantuan dua tokoh satwa fiktif untuk membawa masyarakat turut serta dalam kisah petualangan mereka sehingga memudahkan masyarakat untuk memahami kekejaman di balik perdagangan ilegal satwa liar.

Kedua tokoh satwa tersebut adalah karakter dari game mobile yang berjudul The Adventures of Jalak dan Pora: Free Cockatoos! Kedua game ini dikembangkan oleh Miracle Gates Studio dan NED Studio dalam rangka mengikuti tantangan yang ditawarkan oleh Dicoding.com kepada pengembang-pengembang aplikasi perangkat mobile di Indonesia. Dicoding.com merupakan sebuah startup teknologi lokal yang memiliki tujuan untuk menjembatani kebutuhan pasar dengan keahlian yang dimiliki oleh para pengembang (developer) di negara ini.

Dicoding.com mengalokasikan sebanyak 2,000 XP (experience points) bagi developer yang mampu menyelesaikan tantangan Indonesian Wildlife Game Challenge. XP merupakan experience points Dicoding yang menggunakan gamification model untuk menciptakan lingkungan yang menyenangkan, inovatif, dan kompetitif bagi developer sehingga para pengembang dapat membuat produk terbaik yang bisa sukses di pasar. Para developer kemudian dapat menukarkan poin yang sudah terkumpul dengan berbagai rewards menarik, seperti smartphone, laptop, dan hadiah-hadiah lainnya.

“Dicoding berkomitmen untuk turut menggulirkan perubahan-perubahan positif di masyarakat dengan menjembatani kebutuhan teknologi pasar dan keahlian yang dimiliki oleh komunitas developer kami,” ungkap Co-Founder Dicoding Narenda Wicaksono, “Tantangan yang ditawarkan melalui Indonesian Wildlife Game Challenge bertujuan untuk mendorong kesadaran masyarakat luas mengenai kekejaman di balik perdagangan satwa liar melalui pembuatan game mobile yang menarik dan menyenangkan.”

gameplay

‘The Adventures of Jalak’ adalah sebuah game yang menceritakan petualangan seekor Jalak Bali saat berusaha kabur dari para pemburu yang sedang mengangkutnya untuk dijual. Dengan menyajikan sebuah format permainan endless run, para pemain diharapkan bisa membantu Jalak dan telur-telurnya melarikan diri dari jeratan para pemburu agar dapat kembali ke habitat alaminya.

 

“Kami berharap melalui permainan ini akan semakin banyak orang yang menyadari betapa kritisnya situasi yang dihadapi oleh Jalak Bali saat ini dengan ancaman-ancaman yang datang dari para pemburu dan penyelundup satwa,” ujar Orlando Nandito, Founder Miracle Gates Studio, sebuah startup teknologi dari kota Denpasar, Bali.

keyEdAg1GYZ4_pHG0DgLWnjRifSPgdsCrKtvATegTxns0SEs8RFpYnH38gJUm3QkCb0=h900

Game lainnya yang juga berhasil memenangkan tantangan tersebut berjudul ‘Pora: Free Cockatoos!’, sebuah permainan yang menampilkan modus-modus kekejaman dibalik penyelundupan satwa liar. Dalam episode ini, si ikan Pora dilengkapi dengan torpedo dan gelembung yang dapat digunakan untuk membebaskan kakatua jambul kuning yang terperangkap dalam botol-botol plastik di pelabuhan. Game ini akan terus dikembangkan selama beberapa bulan ke depan untuk menambah jumlah level yang dapat dinikmati para gamers.

 

“Dengan membantu Pora membebaskan burung-burung dilindungi tersebut, kami berharap orang yang memainkan game ini akan secara bawah sadar memahami bahwa burung itu seharusnya terbang bebas di alam, bukan untuk dikekang dalam sangkar apalagi dijejalkan dalam botol plastik,” jelas Jonathan Borisman Tambun, CEO NED Studio, startup teknologi dari Sumatera Utara, “Kami yakin bahwa bersama-sama kita dapat membangun rasa empati generasi muda terhadap makhluk hidup lainnya, salah satunya dengan menampilkan visualisasi penyelamatan satwa dari perburuan dan perdagangan dengan cara yang populer dan menyenangkan,” tambahnya.

 

Petualangan seru yang disajikan oleh kedua game mobile tersebut diharapkan dapat menyampaikan tiga pesan penting kepada publik: 1) bahwa satwa liar saat ini terancam akibat perburuan, penyelundupan, dan perdagangan ilegal, 2) satwa liar bukanlah untuk dikurung atau disakiti, dan 3) masa depan kelestarian satwa di alam adalah tanggung jawab kita bersama.

“Melalui kedua cerita yang disampaikan dalam format game interaktif audiovisual dengan karakter animasi yang lucu, anak-anak dapat dengan mudah menangkap pesan tentang apa artinya mencintai satwa liar, yaitu: mencintai adalah membebaskan dan membiarkan mereka hidup di alam,” ujar Direktur Eksekutif ISAW Kinanti Kusumawardani, “Oleh karena itulah kami bermitra dengan Dicoding.com dan para pemenang Indonesian Wildlife Game Challenge – Miracle Gates Studio dan NED Studio – agar bisa terus mengembangkan upaya edukasi animal welfare melalui cara-cara yang kreatif dan inovatif.”

 

Di saat perdagangan satwa kini sedang dihadapkan pada krisis global yang ditandai dengan bertambah banyaknya permintaan konsumen dan maraknya pemanfaatan internet sebagai ruang pasar yang tidak teregulasi dengan memada, berakibat pada peningkatan drastis jumlah satwa tangkapan dari alam untuk diperjualbelikan. Satwa-satwa tersebut kemudian diselundupkan dengan cara-cara yang tidak layak dan tidak terbayangkan sebelumnya, sehingga sejumlah 40 persen dari satwa tersebut mati sebelum mencapai tempat yang dituju.

 

“Salah satu kunci untuk memberantas perdagangan satwa ilegal adalah dengan menurunkan permintaan melalui pemberdayaan cara-cara kreatif untuk menyadarkan masyarakat tentang kekejaman dibalik jual beli satwa liar dan bagian-bagiannya,” tambah Kinanti, “Oleh karena rentang usia pembeli dan pedagang sangat bervariasi dengan segmen kelompok usia muda kini menjadi sasaran, maka sangat penting bagi solusi yang kita tawarkan untuk mampu memikat kelompok usia lebih muda tersebut maupun juga kelompok konsumen yang sudah lebih dewasa. Dengan bantuan Pora dan Jalak kami yakin dapat membangun upaya edukasi yang memikat hati dan pikiran masyarakat.”

 

ISAW akan mempromosikan kedua mobile game tersebut sebagai bagian dari program edukasi animal welfare ke sekolah-sekolah dasar dan menengah. Kedua game kini sudah tersedia bagi para pengguna smartphone Android dan dapat diunduh secara gratis di: https://play.google.com/store/apps/details?id=com.miraclegates.adventureofjalak  dan https://play.google.com/store/apps/details?id=com.ned.PoraSaveJacob.

 

###

 

Tentang Dicoding

Dicoding adalah platform yang dibangun untuk menghubungkan kebutuhan pasar dengan keahlian para pengembang aplikasi atau developer yang ingin unjuk karya dan mengasah kemampuannya. Didirikan oleh Kevin Kurniawan dan Narenda Wicaksono, Dicoding hadir untuk menjembatani para pengembang aplikasi muda maupun profesional untuk bertemu dengan tantangan-tantangan yang disediakan oleh para pemilik proyek dengan imbalan berupa poin yang dapat ditukar dengan berbagai rewards yang menarik. Informasi lebih lengkap mengenai Dicoding dapat diperoleh di http://www.dicoding.com | Twitter: @dicoding | Blog: http://blog.dicoding.com | Facebook: https://www.facebook.com/dicoding

Tentang ISAW

ISAW adalah organisasi nirlaba yang bekerja untuk mendorong perbaikan standar kesejahteraan satwa di Indonesia. ISAW didirikan tahun 2004 di Malang. Dalam mengampanyekan pentingnya persoalan kesejahteraan satwa atau animal welfare, ISAW gencar melakukan edukasi ke sekolah-sekolah, memberi pelatihan zoo check, dan melakukan kegiatan penyadartahuan kepada masyarakat untuk menghentikan kekejaman terhadap satwa. Informasi lengkap mengenai ISAW dapat diperoleh di www.isaw.or.id | Twitter: @ISAW_animals | Facebook: https://www.facebook.com/IndonesianSocietyForAnimalWelfare

Tentang NED Studio

NED Studio adalah salah satu startup terkemuka dari Sumatera Utara yang memiliki kemampuan produksi game mobile untuk platform pemrograman Android, iOS, maupun Windows Phone. Dengan gabungan talenta yang dimiliki oleh para pengembangnya, NED Studio juga menawarkan jasa pengembangan aplikasi untuk desktop, mobile, serta web. Untuk informasi lebih lanjut mengenai NED Studio dapat diperoleh di http://www.nedstudio.net.

Tentang Miracle Gates Studio

Miracle Gates Studio adalah sebuah startup yang sangat menjanjikan meski baru didirikan tahun 2014 lalu. Dengan dedikasi dan kerja keras para pengembang yang tergabung di dalamnya, startup yang berkedudukan di kota Denpasar ini bertekad untuk membuat karya-karya game yang terbaik untuk dinikmati masyarakat luas. Untuk informasi lebih lanjut mengenai Miracle Gates Studio dapat diperoleh di laman Facebook: https://www.facebook.com/pages/Miracle-Gates-Studio/757290850948743

Penggunaan Intel NDK di Android Studio

Tutorial Intel NDK di Android Studio ini pertama kali dimuat oleh DroidIndonesia.com (DIDC). Untuk versi docx dari tutorial tersebut dapat diunduh pada tautan tutorial Intel NDK
Mari berkenalan dengan Intel NDK di Android Studio.

Apa sih kegunaan Intel NDK di Android Studio? Intinya, yaitu kita dapat mengoptimasi jalannya program Android kita dengan menggunakan kode bahasa C pada Android dengan prosesor Intel, yang secara native mendukung bahasa C. Kode dalam bahasa C ini akan dibungkus dalam library yang akan digunakan sebagai library seperti pada umumya android menggunakan bahasa Java.

Continue reading