Aktivis Android Sidiq Permana dan Jejak Komunitasnya

Sosok yang satu ini tentu tak asing buatmu yang pernah mengambil  kelas Academy “Menjadi Android Developer Expert” (MADE). Bersama Sidiq Permana, Dicoding juga telah melatih ribuan developer dari Riau hingga Papua sejak 2017 melalui kegiatan Bekraf Developer Day (BDD).

Sidiq (kedua dari kiri) saat bersama panelis lainnya di salah satu event BDD.

Saat ditanya apa yang paling membuatnya semangat, Sidiq menjawab simpel: “Berbagi ilmu dan berkah untuk Indonesia.”

Visi besarnya, memajukan kualitas sumber daya manusia Indonesia di bidang teknologi informasi. Mengaku terinspirasi Narenda Wicaksono (CEO Dicoding) yang disebutnya “Bapak kompor IT se-Indonesia”, Sidiq terpanggil untuk fokus pada pengembangan Aplikasi Android. Google Developer Expert (GDE) in Android ini sudah terjun di industri IT sejak 2013.

Awalnya ia sempat kembali ke almamaternya, UIN, sebagai dosen pendamping untuk beberapa mata kuliah. Di saat yang sama ia mulai memberikan workshop bagi sejumlah komunitas dan kampus Jabodetabek, kemudian Aceh. Dengan pengalaman di tahun-tahun awal ini, “Saya jadi ngerti kenapa industri yang lagi tumbuh pesat ini nggak imbang dengan suplai SDM yang berkualitas dan siap pakai,” ujarnya. Simak analisanya berikut ini:

#1 Industri Baru
Pada waktu itu (2014) industri ini tergolong tumbuh dengan lebih pesat karena adanya pergeseran budaya pemanfaatan teknologi. Perangkat smartphone mengubah segalanya.

#2 Institusi Pendidikan Kurang Responsif
Kurikulum, materi, dan tenaga ajar di institusi pendidikan cenderung lambat mengadaptasi perkembangan teknologi yang luar biasa cepat pada 10 tahun terakhir. Alhasil, spesifikasi teknis yang dibutuhkan industri kadang tak relevan dengan kapabilitas developer yang baru lulus.

#3 Kualitas Lulusan Nomor 2
Pola pendidikan di kampus yang berorientasi pada kuantitas kelulusan namun kurang memperhatikan kualitas dari lulusan yang siap diserap oleh industri.

#4 Lemahnya kolaborasi industri-institusi pendidikan
Informasi seperti peluang magang, kerja part time hingga kesempatan berkarir untuk para talenta di kampus, cukup terbatas.  Ini mungkin pengaruh pelaku industri yang tidak menyempatkan turun langsung ke level akar rumput untuk berkontribusi dan berkolaborasi dengan institusi pendidikan.

#5 Lemahnya Bahasa Inggris
Kemampuan talenta developer dalam bahasa Inggris, cenderung lemah, sementara materi terkait teknologi umumnya berbahasa Inggris.

Inisiatif Developer Mengajar

Menyadari besarnya tantangan di atas, Sidiq bersama Aqid (Flipbox), Mega (Chocoarts) dan beberapa pendukung seperti Babab Dito (Telkomsel), Firstman Marpaung (Intel) dan Agus Hamonangan (ID-Android) tak tinggal diam. Mereka menginisiasi “Developer Mengajar,” sebuah devcamp dua hari yang memulai debut di kampus Universitas Sam Ratulangi, Manado.  

Sidiq dan tim tak keberatan merogoh koceknya sendiri untuk beli tiket PP. Mereka puas telah berbagi materi Android App, Web App dan Game dalam workshop “ngampar” sederhana beralaskan karpet.

Salah satu sesi Developer Mengajar di Palembang

Yang lebih membuatnya puas adalah “Tiga ratusan (300-an) mahasiswa dan komunitas yang ikut, jadi lebih termotivasi. Pasca acara mereka lanjut eksplorasi bidang peminatan masing-masing dan mengimplementasikannya di tugas akhir dan kerja freelance,” kenangnya sambil menyeringai. Memang sebagian di antara jebolan Developer Mengajar ini juga berkarir di Jakarta, termasuk di Nusantara Beta Studio (NBS), perusahaan digital yang ia dirikan. 

Menariknya, saat melanjutkan Developer Mengajar hingga ke Palembang, Balikpapan, Medan, Sumbawa, Makassar, dan Bali, Sidiq dan tech-activist lainnya juga berdialog dengan pimpinan program studi di kampus-kampus. Tujuannya konsisten: mempersiapkan mahasiswa menghadapi dunia kerja.

Selepas menjadi GDE, ia dan rekan-rekan GDE Android mulai menggarap program reguler event ID-Android Dev Tech Talk sejak 2016. Seperti TED, 13 event tersebut membahas mendalam topik-topik terkini, memasukkan sesi codelab, serta melibatkan partisipasi para developer profesional. Hampir 3,000 developer dari 8 kota, telah dijangkau.

Apa sudah cukup?

Baginya, jalan masih panjang. Ia bersyukur tiga tahun terakhir Dicoding Event “BDD” mengusung misi yang sama dalam meningkatkan kualitas SDM digital di Indonesia. Ia merasa “Bahagia banget, apalagi kalau habis acara ini, komunitas-komunitas daerah jadi pada bermunculan!” serunya bersemangat.

Saat membawakan sesi di Bekraf Developer Conference di Bandung, Desember 2018 lalu.

Inisiatif lain bersama Dicoding adalah mengembangkan kelas Menjadi Android Developer Expert yang rilis sejak 2017. “Saya bangga dipercaya menyusun-mengembangkan materi luar biasa di MADE, dan  bekerja sama dengan Google Authorized Training Partner di Indonesia. Ini cara lain saya berkontribusi untuk kemajuan sumber daya manusia di Indonesia,” ucapnya. Memang kini puluhan ribu developer anak bangsa kini telah menikmati kelas ini.

Namanya tertulis bersama Ahmad Imaduddin (Head of Dicoding Academy) di laman sampul buku MADE

Lebih lanjut, tahun lalu Sidiq juga menjadi mentor bagi peserta Google Developer Kejar yang menimba ilmu tentang bahasa Kotlin dalam pemrograman Android.

Saat menjadi Fasilitator Batch I di Google Developer Kejar 2018, Sidiq mengadakan sesi meet up offline unuk peserta Kejar daerah Jabodetabek

Keahliannya dalam pemrograman Android telah membawa Sidiq ke penjuru dunia.

Dengan putra kecilnya yang baru dua tahun, kini Sidiq mengaku lebih sulit untuk “bergerilya” ke daerah-daerah seperti dulu.

Tapi di hatinya ia tetap bertekad “Selamanya ingin berkontribusi untuk negeri.”

Seperti pesan orang tuanya, ia pun yakin bahwa ilmu yang ia bagikan, tak akan pernah putus kebaikannya.

Oh ya, nantikan Dicoding LIVE bersama Sidiq, berikut ini:

Belajar mengembangkan aplikasi atau game dengan kurikulum yang telah divalidasi langsung oleh industri dengan Dicoding Academy.

Belajar di Dicoding Sekarang →
Share this:

Editor @ Dicoding

One comment, add yours.

Setia

Sangat menginspirasi 👍

Leave a comment