aplikasi android pengubah sampah

SAMPUN, Aplikasi Android Pengubah Sampah jadi Faedah 

SAMPUN, Aplikasi Android Pengubah Sampah jadi Faedah 

SAMPUN, aplikasi Android karya Hayi Nukman (30 tahun) dan teman-temannya putra Lombok, hadir mengatasi masalah gawat yang kita hadapi: krisis sampah. 

Seberapa gawat krisis sampah di Indonesia ?

Setiap tahunnya Indonesia memproduksi 64 juta ton per tahun atau 0.7 kg per penduduk per hari (KLHK, dikutip bisnis.com). Indonesia juga produsen sampah plastik kedua terbesar di dunia setelah Cina (McKinsey and Ocean Conservancy 2015). 

Sebanyak 69 % sampah berakhir dibuang di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), tanpa diolah. Padahal open dumping seperti ini sudah banyak loh akibatnya:  dari mencemari tanah, air, udara, menelan korban nyawa, hingga mempercepat laju pemanasan global. Familiar dengan pemandangan di bawah ini? 

Aplikasi Android Pengubah Sampah

Produksi sampah memicu produksi gas methane (CH4) penyebab pemanasan global (sumber: Wikipedia)

Aplikasi android pengubah sampah

Sampah di perut paus yang mati terdampar di Wakatabi (November 2018)

Lombok dan Sampah 

Krisis sampah juga terjadi di Lombok, Nusa Tenggara Barat. 

“Produksi sampah dari seluruh NTB sebanyak 3,500 ton per hari. Hanya sekitar 18 % di antaranya yang masuk TPA. Sisanya? Dibuang sembarang oleh masyarakat” 

(Madani Mukarom, Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi NTB)

Prihatin akan situasi di kampung halamannya, Hayi Nukman rembug bersama teman-temannya. “Gimana ya meningkatkan kesadaran masyarakat lewat sampah lewat teknologi,” pikir mereka kala itu. 

Jawabnya ada pada “SAMPUN,” aplikasi android yang mereka buat untuk memberdayakan masyarakat dan swasta dalam mengelola sampah. 

SAMPUN adalah singkatan dari “Sampah untuk Negeri” 

Member Dicoding yang satu ini tak bekerja sendirian. Total ada 4 orang konseptor dan tim teknis di dalam tim, bergerak bersama. Mereka adalah Hayi – Lian (business process dan programming), Alawi dan Bayu (web, backend, dan payment), Reynaldi (technology development), ditambah satu lagi, Syawal, sebagai konseptor. 

Mereka membuat SAMPUN sejak Maret hingga April 2019. Selesai uji coba, kini SAMPUN telah berjalan dua bulan di 3 desa di Lombok Tengah, yaitu  Sepakek, Dasarn Cermen, dan Gunung Sari. 

Pada Juli 2019 SAMPUN terpilih mengalahkan puluhan aplikasi yang mendaftar Socioeconomic Challenge di Dicoding. Menurut Dewan Juri, alasan app ini terpilih sebagai pemenang adalah

“SAMPUN itu, idenya sederhana, tapi impactnya bisa luar biasa.

Jadi kepo kan, seperti apa aplikasi ini? Yuk simak!

Bagaimana SAMPUN Bekerja 

Klik visualnya, atau simak gambar di bawah.

sumber: Hayi Nukman

Aplikasi android pengubah sampah

sumber: Hayi Nukman

aplikasi android pengubah sampah

Sumber: Hayi Nukman

Lewat aplikasi ini, masyarakat termotivasi untuk bertanggung jawab pada sampahnya sendiri. Mereka jadi terbiasa memilah sampah ke kategori kertas, kaca, kardus dan lainnya. Sampah kemudian dihitung beratnya dan dibeli oleh bank sampah. Masyarakat jadi punya “rekening” tabungan dari sampah yang mereka kelola. Hayi berucap: 

“Sebenarnya selain untuk lingkungan, aplikasi ini juga punya manfaat lain: menanamkan pola hidup menabung. Apalagi di Lombok mayoritas masyarakatnya miskin, sulit nabung dan buka rekening di bank. Dengan SAMPUN, masyarakat jadi semangat untuk nabung. Bisa nanti buat beli sembako, biaya pendidikan, asuransi kesehatan, hingga tabungan haji!” 

Belakangan, bank daerah setempat pun melirik inisiatif Hayi dan teman-teman. Mereka berminat untuk membuatkan “rekening sampah” untuk warga Lombok yang ingin menyetorkan sampahnya ke bank sampah via SAMPUN. Wow !

Selain masyarakat, pihak lain yang menuai manfaat dari SAMPUN adalah bank sampah setempat. Bapak pengelola sampah sempat berujar

“Aplikasi ini membantu digitalisasi bank sampah. Dulu pencatatan gak rapi. Kini tidak lagi!” Hayi pun mengaku mudah melatih para petugas bank sampah mengoperasikan aplikasi tersebut. “Mereka anak-anak milenial. Sangat cepat mengerti cara kerja SAMPUN,” tuturnya. 

Aplikasi ini dibuat untuk 2 jenis user: masyarakat dan pihak pengelola masyarakat

Apa tantangan terbesar untuk Hayi dan Tim?

Bukan skill, bukan pula hardware. Tantangan terbesar bagi Hayi dan tim adalah mindset user. “Menyadarkan masyarakat tentang sampah itu, gak mudah,” ceritanya. “Padahal sampah ini punya nilai ekonomi. Itu mindset yang susah diubah!”  

aplikasi android pengubah sampah

Hayi (paling kiri) tengah mensosialisasikan SAMPUN pada partner pengelola sampah

Misi Mengembangkan Talenta Lokal 

Penasaran dengan sosok di balik SAMPUN? 

Lulus dari Teknik Informatika STIMIK AKAKOM Yogya, pemuda 30 tahun ini sempat bekerja di R & D Samsung dan Tokopedia di Jakarta. Sudah bergaji besar di perusahaan top di ibu kota, Hayi memutuskan pulang kampung. Kenapa??

Sejak 3 tahun lalu Hayi pulang kampung ke Lombok dan kerja remote sebagai engineer Bukalapak. Kenapa? Ia menjawab: 

“Gara-garanya saya suka penasaran, kenapa lulusan IT di Lombok ujung-ujungnya jadi kasir.
Saya mau ubah itu, makanya pulang kampung” 

Kini sehari-harinya Hayi bekerja berbaur dengan komunitas lokal. Bersama rekan-rekan di Lombok Dev, mereka giat mengembangkan talenta lokal. “Di sini ada ratusan yang hadir kalau kita (Lombok Dev-red) adakan pelatihan. Antusiasme developer muda Lombok, luar biasa! 

Member Dicoding yang satu ini, jebolan kelas Kotlin Android Developer Expert.  Tuntas dari kelas KADE, Hayi menggunakan materi Kotlin untuk membangun sebagian aplikasi SAMPUN. 

Berkecimpung di dunia android development selama 6 tahun, Hayi mengaku passion sejatinya itu berbagi dan memajukan anak-anak muda Lombok.  

Sumber Kepuasan yang Hakiki 

 Pulang ke Lombok memang tak menjanjikan popularitas atau gaya hidup kekinian seperti kota. Tapi menurut Hayi, justru 

“Tantangan di sini cukup menarik. Basecamp komunitasnya, kuat. Senang melihat anak-anak muda di sini sukses. Teman-teman didikan kita ada yang terpilih kerja di Jakarta, Singapura, dan Batam.” 

Saat ditanya tentang peran Dicoding, Hayi menjawab:  

“Untuk daerah-daerah yang jauh seperti kami, adanya Dicoding bagus banget untuk pendidikan anak-anak di sini. Meski jauh, banyak dapat ilmu dari orang yang ahli.” 

Di Lombok khususnya, banyak programmer setempat baru-baru ini terpilih menerima beasiswa Google Developer Kejar 2019. Mereka kini tengah menyelesaikan kelas belajar Android Expert di Dicoding tanpa dikenakan biaya.  

Dengan belajar di Dicoding, Hayi mengaku senang melihat banyak  developer lokal antusias belajar pemrograman android dan game 

Kini mimpi jangka pendeknya, beli server untuk memudahkan transaksi e banking di SAMPUN. “Saya sudah lihat di dicoding Rewards. Nilainya sekitar 50,000 Points. Jadi semangat kumpulin Points” ujarnya.  Kita doakan ya teman-teman. Semangat Hayi!

SAMPUN, Aplikasi Android Pengubah Sampah jadi Faedah – end

Sumber: 

https://ekonomi.bisnis.com/read/20190221/99/891611/timbulan-sampah-nasional-capai-64-juta-ton-per-tahun 
McKinsey & Company and Ocean Conservancy, Stemming the Tide: Land-based strategies for a plastic- free ocean, September 2015 
https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20180425101643-282-293362/riset-24-persen-sampah-di-indonesia-masih-tak-terkelola
https://globalfmlombok.com/read/2018/12/18/masyarakat-ntb-hasilkan-3-500-ton-sampah-per-hari-kurang-dari-20-persen-masuk-tpa.html

 

Ingin juga jadi yang terdepan dalam dunia Android Development? 

– Cek di sini untuk mengunduh aplikasi SAMPUN
– Lihat dan daftar di sini untuk Dicoding Challenges / kompetisi cipta karya App, terbaru.
Baca tulisan ini untuk melihat pemenang Challenge sebelumnya di bidang pendidikan
– Klik di sini / gambar di bawah untuk belajar mengembangkan Aplikasi Android, dari level Pemula hingga Pro.

Fase Belajar Android di Dicoding

Belajar mengembangkan aplikasi atau game dengan kurikulum yang telah divalidasi langsung oleh industri dengan Dicoding Academy.

Belajar di Dicoding Sekarang →
Share this:

Editor @ Dicoding