Perempuan-Perempuan di Dunia Startup Digital: Our Story

Dalam cerita pewayangaan Jawa ada kisah Dewi Srikandi. Ia mahir berperang dan memanah. Keahlian ini membawanya menjadi suri teladan prajurit wanita. Dalam konteks kekinian, sosok Srikandi hadir dalam figur setiap perempuan yang tangguh dan mendobrak batas. Seperti di dunia startup digital. Tak melulu Arjuna yang jadi lakon sentralnya.

Sebanyak 2 (dua) dari 5 (lima) penduduk angkatan kerja di tingkat global, adalah perempuan (World Bank 2017). Begitu juga dengan di Indonesia di mana 37 % pekerja adalah perempuan. Di sektor mana saja perempuan banyak terserap? Rupanya, industri ekonomi kreatif. Persentase partisipasi perempuan, mendominasi: 54 % (BPS 2018) (BPS 2018).

Dunia startup digital juga dunia perempuan. Di sektor ekonomi kreatif “aplikasi games dan developer” persentase perempuan 25 % (BPS 2016). Memang dari kuantitas, jumlahnya sedikit. Tapi, mari lihat lebih dekat. Beyond numbers. Mereka punya peran sentral dan aspirasi yang tinggi. Seperti para perempuan di Dicoding.

Dicoding merupakan startup digital yang masuk dalam cluster ekonomi kreatif. Kami bangga bahwa 1 dari 5 staf Dicoding adalah perempuan. “Mereka termasuk our best hires. Bertanggung jawab. Sense of belonging yang tinggi. Tekun,“ ujar Narenda Wicaksono, CEO Dicoding.

Mereka membawa Dicoding ke titik ini. Titik di mana ratusan ribu member bisa memetik manfaat lebih, setiap hari.  

Mungkin kamu familiar dengan nama atau wajah para srikandi kami? Yang kerap menyapamu lewat email, artikel, atau ketemu di event.

Yuk simak cerita 3 perempuan yang berkarir di Dicoding, berikut ini.

#1 Hena Safna (Hena)

Lahir dan besar di Bandung. “Dari Bandung untuk dunia.” Itulah misinya melakoni tugas sebagai Event Manager di Dicoding. Baru-baru ini Hena mempromosikan Dicoding agar bisa mewakili Indonesia di sebuah festival bergengsi di Amerika Serikat. Doakan berhasil ya teman-teman!

Jebolan Teknik Arsitektur UPI Bandung ini andalan kami untuk semua kegiatan Dicoding bersama pihak eksternal. Tanpanya, sulit membayangkan koordinasi acara, peserta, hingga pembicara.

Dalam sebuah event bersama sessama staf Dicoding dan narasumber

Sebelum jadi staf, Hena adalah member Dicoding. Ia adalah satu dari sekian ribu member di awal-awal Dicoding berdiri. Ia menemukan Dicoding saat berselancar di Instagram. Setelah kepoin Dicoding, terbit ketertarikannya belajar di Academy.

Apa pasal? Sudah lama gadis penghobi olahraga ini ingin membuat  aplikasi di bidang arsitektur. Ia pun mengikuti kelas Academy “Belajar Membuat Game dengan HTML 5.” Game besutannya mengundang decak kagum teman-teman kampus. “Bangga banget,” kenangnya.  

Beberapa bulan kemudian ia menemukan lowongan magang di Dicoding. Tanpa pikir panjang, ia langsung mendaftar. Performa yang baik, membuat kami mempercayakan posisi full time staff padanya.

Perempuan 23 tahun ini merasa keluarga, terutama orang tua, memiliki andil yang sangat besar dalam menentukan pilihan hidupnya. “Orang tua selalu bebasin saya belajar apa atau kerja di mana. Yang penting saya menjalaninya dengan fokus dan sungguh-sungguh,” ujar Hena.  

Hena sangat mengerti how and how-to desain visual yang “Dicoding banget.” Sesuai dengan minat-bakatnya sejak kecil: menggambar. Lainnya: matematika dan main piano.

Lewat Dicoding Event, ia telah menjelajah Kepulauan Riau hingga Papua. Tak hanya kesempatan jalan-jalan. Profesi Hena saat ini memberikannya insentif lain yang tak bisa dinilai dengan uang. “Saya jadi bisa  ketemu dengan banyak orang dari berbagai latar belakang.” Pengalaman interpersonal ini “belum tentu saya dapatkan dari tempat lain. Dicoding’s the best lah.”

Jadi perempuan pejuang startup menurutnya, “nggak ada hambatan, asal mau belajar. Pelajari hal yang baru setiap harinya,” ujarnya menutup pembicaraan.

#2 Monalisa Arcelia (Mona)

Mona mendeskripsikan petualangannya di Dicoding seperti “kerja rasa backpacker.” Setiap kali ada program yang mengharuskannya berkeliling ke luar kota, backpack-nya selalu terisi dengan baju dan barang personal yang cukup untuk 3 hari.

Lewat petualangan ini, ia juga bisa bertukar pikiran dengan banyak mitra Dicoding. Dari para perintis startup di pelosok negeri hingga petinggi perusahaan IT. She loves it!

Mona di salah satu “kerja ala backpaker” nya di Balikpapan. Pada kesempatan ini ia tengah memoderasi sebuah sesi bertajuk Game Development

“Saya senang berbincang sana sosok-sosok yang satu frekuensi,” ucapnya.

Sebagai Customer Support Dicoding, Mona adalah “wajah” Dicoding yang pertama kali menghadapi  klien nomor satu kami: para member. Kini sebanyak 125 ribu orang dari lebih dari 400 kota di Indonesia sudah bergabung. Mona lah yang pertama kali mereka sapa dan hubungi untuk keperluan umum hingga spesifik. You name it! Gawai dan outlook-nya tak henti menerima pesan A sampai Z.  

Sosoknya periang dan terbuka namun tegas. Karakter yang tepat untuk menangani tanggung jawab tersebut. Tanpa Mona, mungkin para bujangan datar di Dicoding yang merespon customer dengan segala keunikannya, dengan datar pula.  

Saat ditanya tentang jobdesk-nya sehari-hari, gadis yang hobi belajar bahasa asing ini hanya menjawab  satu kata: “Menantang!”

Sebagai salah seorang penanggung jawab Google Developer Kejar 2018 “Kotlin on Android” dari pihak Dicoding, tugasnya sangat besar. Dari mendata aplikasi yang masuk hingga memastikan ratusan peserta terhubung dengan fasilitatornya masing-masing. Bukan tugas yang enteng.  

Hal yang menarik darinya adalah ia selalu berpikiran jauh dan matang. Dua tiga langkah di depan, penuh persiapan. Ia pernah didapuk sebagai “Employee of the Month.” Inisiatifnya yang tinggi sangat membantu tim, terutama segala hal yang berkaitan dengan GDK 2018.

Gadis yang lahir dan besar di Palembang ini mengenyam pendidikan di Teknik Informatika UIN Yogya. Sejak kuliah ia aktif mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di lab kampusnya. Tanpa dinyana, itulah yang mendekatkannya dengan jejaring developer di luar kampus, termasuk Dicoding.  

Dunia digital adalah dunia masa depan. Perempuan tidak hanya harus tahu. Women need to try to connect and be part of it!” ujarnya mantap. Nah, sekarang ketauan kan keahlian Mona lainnya? (Diam-diam) menginspirasi.

#3 Mutiara Arumsari (Ara)

Buat Ara, begitu sapaannya, mode bekerjanya cukup unik. Berbeda dengan rekan sejawat, ia tidak berkantor di Dicoding Space, Bandung. Melainkan di rumahnya sendiri di Bogor. Kok bisa? Yup! Ia full time mom dan juga full time staff Dicoding. Karena itu, Ara bekerja di balik laptopnya di rumah. Sambil jadi guru homeschooling kedua putrinya yang berusia 3 dan 5 tahun.

Ara adalah Editor di Dicoding sejak Desember 2017 silam. Misinya, mengungkap human story di balik baris kode yang ditulis oleh Dicoding developers. “Orang cenderung melihat produk jadi mereka (developer -red). App misalnya. Yang nampak itu, functionality, interface, dll. Padahal ada sosok manusia mengagumkan yang memikirkan desain, sistem, dan semuanya!” ujarnya bersemangat.

“How did he/she get there?” adalah pertanyaan yang selalu mengusiknya. Berbekal wawancara sambungan telepon, tatap muka, dan riset, ia menulis dengan satu tujuan. Ia ingin pembaca bisa mengambil manfaat, sekecil apapun.

Ia berharap bahwa setelah membaca tulisannya, developer akan merasa dirinya belong to / merupakan bagian dari komunitas organik di Indonesia. Tak besar, memang. Namun kuat, positif, berkembang, dan saling membantu. Seperti Dicoding.

Menulis memang hobinya sejak SD. Hobi ini membawanya berkuliah hingga ke Australia dan Perancis. Lalu lanjut berkarir di organisasi PBB yang mengurusi pengungsi. Sebagai persyaratan masuk ke masing-masing institusi ia harus menulis uraian “Kenapa kami harus menerima Anda.” Buatnya, itu tak jadi soal. “Dapet pertanyaan “kenapa” dan nulis jawaban “karena…” itu, favorit saya,” kenangnya.

Setahun bekerja di Dicoding, ia merasa bahwa melting pot ini  merupakan wahana yang sarat potensi. “Serupa mangkuk salad yang penuh dengan kombinasi bahan,“ ujarnya mengumpamakan. Tiap developer itu unik dan punya kekhasannya sendiri. Narasinya dituangkan ke dalam tulisan.

Bersama para mahasiswa IT dari Kab. Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur dan seorang teman Dicoding

Di Dicoding para developer diajak untuk menjajal bermacam peluang bisnis dan kolaborasi. Umumnya datang dari pihak eksternal, seperti perusahaan dan pemerintah. Dengan kolaborasi ini, Dicoding berharap para developer lebih maju dan berkembang dalam ranah industri yang lebih besar.

Di sini, tugas Ara adalah jeli melihat kisah dan menuangkannya dalam tulisan.

Ia yakin “Perempuan selalu punya kelembutan untuk merawat keluarga. Serta kegigihan untuk memajukan komunitas. Kenapa tidak?

Jika kamu perempuan dan kamu baca tulisan ini, berbanggalah. Sebagai perempuan, kita punya segala kekuatan untuk mengubah dunia. Di mulai dari orang tersayang yang ada di sekitar kita.

Jika kamu laki-laki dan kamu baca tulisan ini, berbahagialah. Karena kamu bisa mendukung perempuan dalam lingkaran terdekatmu. Di mulai dari Ibu yang melahirkanmu. Hingga tiap perempuan yang kamu temui dalam hidup. Treat them with respect. Then they will bring out their best too. Not only to you, but to the world at large.

Belajar mengembangkan aplikasi atau game dengan kurikulum yang telah divalidasi langsung oleh industri dengan Dicoding Academy.

Belajar di Dicoding Sekarang →
Share this:

2 comments, add yours.

Abdurraziq Bachmid

Tulisan yang terakhir bikin keingat emak…. 😢

    Mutiara Arumsari

    Doakan biar pahalanya mengalir buat beliau, Abdurraziq

Leave a comment