Pecah Telor Lulus KADE 3 Hari

Tantangan Angga Pratama akhirnya “pecah telor.” Ikrarnya, ia siap beri hadiah smartwatch untuk siapapun yang lulus KADE (kelas Kotlin Android Developer Expert) dalam 3 hari. Satu minggu tantangan ini bergulir. Kini, Kita punya rekor baru: Yudistiro (21 thn, Yogya) dan Kelvin Wong (25 thn, Manado). Keduanya lulusan tercepat “3 hari” kelas KADE.

#1 Yudistiro: Ngoding Merem Melek di Kereta Malam  

Seberapa greget Yudistiro?

Niat banget lulus 3 (hari). Sampai bela-belain bangun-tidur-bangun demi ngoding di kereta malam Bandung – Yogyakarta. “Sampai sempat berhenti (ngoding), Mbak. Mumet saya gegara ngoding di kereta,” ucapnya.

Jadi gini. Awalnya peserta Google Android Kejar Batch 2 ini tak muluk-muluk dengan target kelulusannya. Sampai ia membaca artikel Dicoding tentang Angga pemecah rekor 5 hari dan tantangannya. Ia pun meluruskan niat: melampaui Angga dengan lulus 3 hari.

“Tergiur dan ngarep. Keren, lagi,” kenang cah Wonogiri ini.  

Penasaran gimana cara Yudis menuntaskannya?

Bisa dibilang, ia mengerjakannya dari pagi ke malam. Nonstop. Tidur hanya 2 jam. Yudis memang baru saja menuntaskan magangnya di GITS, sebuah software house di Bandung. Alhasil, waktunya lowong. Sang chairman, Ibnu Sina Wardy atau kerap disapa “Mas Ibun” mendorongnya untuk segera lulus. Terlebih, beberapa staf GITS lainnya juga sudah lulus lebih dulu.

Hari pertama ia mulai menggarap dari pukul 5 sore ia menggarap sampai dengan submission 1.  Reviewer selesai memeriksa pekerjaaanya. Ia lanjut ngoding hingga tidur hanya 2 jam. Di hari ke dua ia mengerjakan submission 2 hingga selesai. Di hari ke tiga ia sempat buntu mengerjakan submission 5. Ia lari ke forum diskusi dan stackoverflow. Sebelum akhirnya dinyatakan lulus.  

Tak hanya sebuah smart watch. Tiga hari maraton ini juga berbuah hal lain: nyeri otot.

Marathon ngoding itu berat. Diambil dari instastory Yudis sesat setelah ia mengumpulkan submission

Plester hangat pereda nyeri, jadi andalan. “Sueneng tapi!” ujarnya dengan senyum lebar dan logat Jawa yang khas.

Selain karena gigih dan sedikit tidur, keberhasilannya bisa ditelusuri dari pengalaman. Yudis adalah member lawas Dicoding sejak 2016 dengan jam terbang Academy dan Challenge yang cukup tinggi.

Selain itu, ia telah menggunakan Kotlin untuk keperluan tugas akhirnya. Sehingga materi Kotlin terasa familiar baginya. Tugas akhir Mahasiswa STMIK AKAKOM Yogyakarta ini adalah mengembangkan aplikasi “Model Pelaporan Kemiskinan di Daerah Bantul” dan berbasis Kotlin.

Yudis (kanan) merupakan salah seorang DSC Lead yang mewakili kampusnya, STMIK AKAKOM Yogyakarta.

Sertifikat tanda lulus, sudah di tangan. “Ini penting untuk portfolio saya,” ujarnya. Pasalnya kian banyak project serta perusahaan yang menggunakan Kotlin.

Selain mimpi membangun startup, “Dengan Kotlin, saya ingin lebih membantu ayah saya memasarkan jualan keripik singkongnya,” ikrarnya bersemangat. Semoga berhasil, Yudistiro!

Terakhir, ia punya saran untuk para peserta kelas KADE yang sedang menemui kesulitan. “Jangan malu untuk bertanya. Mau itu ke fasilitator atau ke forum forum programmer lainnya. Jangan dipendam sendiri. BERAT,  kaya memendam perasaan ke doi!”

OK Siap, Yudis. Penghayatan sekali, masukannya 😀

#2 Kelvin Wong: Berawal dari Dipanas-panasin

Selain ngoding, developer yang satu ini suka diving alias menyelam. Bunaken, Maluku bagian timur, hingga titik-titik lain di bumi Indonesia timur, sudah ia jelajahi.

Menurutnya ngoding dan diving memiliki kesamaaan “sama sama membutuhkan ketenangan, kesabaran, dan konsentrasi,” ujarnya.

Jika menyelam ke daerah dengan titik penyelamaan yang bagus, Kelvin kerap mencoba diving di sana.

Jebolan Teknik Informatika Universitas Sam Ratulangi Manado ini, bercerita. “Awalnya saya dipanas-panasin oleh Sidiq Permana,  CIO di Nusantara Beta Studio, tempatnya bekerja. “Masa lo 3 hari nggak bisa,” kenangnya.

Selain janji smartwatch dari pemegang sabuk lulus 3 hari, ada hal lain yang terbayang di pikirannya: timing-iming dikasih tiket nonton. “Dari Mas Sidiq” ujar Android Developer ini. Ia mengaku jadi lebih tertantang.

Waktu ia mulai mengerjakan, tugas di kantor sedang santai. Tips darinya, buatlah kode-kodenya dasar terlebih dahulu seperti styles, strings dan dimen agar langsung bisa dipakai ngoding dan kode lebih rapi. Untuk materi, karena telah menguasai sebagian, “saya next next aja,” ujarnya. Lalu ia mengerjakan bagian yang mudah-mudah dulu sebelum mengerjakan bagian yang sulit, seperti menyiapkan semua layout terlebih dahulu baru membuat fungsi (mengambil data dsb). `

Perbedaan tipis antara Kelvin dan Yudis ada di submission 5. Pekerjaan Yudis, tanpa cela. Alhasil langsung diterima. Sementara itu, reviewer mengembalikan pekerjaan Kelvin karena masih ada eror yang perlu diperbaiki.

Kesamaanya, mereka sama-sama kurang tidur. Selain karena itu, “Sebenarnya nggak disarankan ngerjain cepetcepet begini, terutama buat developer yang baru belajar. Belajar itu enaknya slow.”

Bagaimanapun, ia merasa metode belajar dengan target tinggi ini, cocok baginya. Ia mengaku kerap lupa dan menunda-nunda. “Dengan begini jadi lebih semangat,” ucapnya.

Untuk Kelvin, ia merasa mampu 3 hari karena telah menguasai sebagian materinya, dan pernah mengerjakan akademi online serupa sebelumnya.  

Pria yang hobi main game mobile ini pun juga punya beberapa pesan buat peserta Google Developer Kejar 2018 lainnya:  

  1. Tak perlu terlalu idealis untuk bagian User Interface. Hati-hati. Ini adalah bagian yang bikin sebagian developer obsesif. Hingga  membuat submission jadi molor.
  2. Rasa ingin tahu dan excitement belajar itu, harus tinggi. Dengan keduanya, kita jadi termotivasi lebih untuk menyelesaikan kelas.

Ia menutup wawancara kami dengan seruan “KEREN BANGEET KOTLIN.” Himbauannya agar para developer gencar bermigrasi ke Kotlin. “Hemat waktu banget. Dari yang tadinya Java 1000 baris kode, pakai Kotlin hanya 500.”

Sepakat, Kelvin!  

Belajar mengembangkan aplikasi atau game dengan kurikulum yang telah divalidasi langsung oleh industri dengan Dicoding Academy.

Belajar di Dicoding Sekarang →
Share this:

Editor @ Dicoding

Leave a comment