Ngoding dalam Hening: Programmer yang Mengembangkan Aplikasi Inklusif Ramah Difabel  

Pukul 6 pagi. Matahari di langit Yogya masih malu-malu. Hastu berdiri mengantri di baris terdepan. Ia peserta yang datang paling pagi di acara Bekraf Developer Day (BDD) Yogya (3/11). Sepanjang acara, ia ingin di baris pertama. Jika ada yang ia tak mengerti, sesekali ia menoleh ke arah Nofri, teman sebelahnya. Tangan Nofri bergerak dalam bahasa isyarat, menjelaskan perlahan.

Ngoding dalam Hening

Hastu Wijayasri ngoding dalam hening. Sejak kecil, ia tidak dapat mendengar. Tapi urusan semangat belajar, jangan ditanya. Sejak kecil Hastu bersekolah di sekolah umum. Hobinya menggambar doodle, berbakat menari, jalan-jalan dan suka dengan instalasi seni. Tengok kanal instagram Hastu. Kamu akan lihat banyak karya dan prestasinya yang tak hanya membuatmu tersenyum. Melainkan juga kagum. Berikut ini beberapa di antaranya. Bagus kan?!

   

Mahasiswa UIN Yogya ini kini duduk di semester 3 jurusan Teknik Informatika. Mata kuliah favoritnya adalah Human Computer Interaction alias Interaksi Manusia dan Komputer. Kuliah 4 hari dalam seminggu. Banyak menghabiskan waktu senggang setelah kuliahnya di laboratorium kampus.  

Awalnya, Hastu sempat merasa bahwa belajar teknik informatika itu, “pusing,” ujarnya dengan tangan mengepal memutar di depan dahi. Wajahnya yang riang tersenyum mendadak cemberut sekilas.

Ilustrasi Hastu tentang kuliah

Pernahkah punya sahabat tuna rungu? Jika belum, cobalah sesekali berdiskusi. Bahasa tubuh dan mimik wajah rekan-rekan seperti Hastu, sangat ekspresif. Jika senyum, lengkung senyuman bibir, lebar sekali. Jika mengungkapkan kesedihan, raut muka sontak seperti menangis. Komunikasi pun, lebih nyaman dalam jarak dekat. Sangat menyenangkan punya sahabat seperti Hastu.  

Anyway..back to the topic 😊

Di kelas perkuliahan, Hastu memahami materi dengan membaca gerak bibir dosen. Sesekali ia merekam video kegiatan belajar di kelas atau didampingi oleh pendamping yang merupakan relawan PLD. Seusai kelas, ia akan memutar video itu kembali untuk memahaminya. “Kadang-kadang berhasil. Kadang nggak,” jelasnya dengan ekspresi terkekeh.

Motivasi dalam Belajar

Buatnya, kuliah sangat menantang. Meski kadang sulit memahami, Hastu punya beberapa kesukaan sendiri yang membuatnya semangat belajar.

Semangat pertama hadir lewat seorang dosen favoritnya. Dalam suatu ketika saat dirinya sedang down, sang dosen pernah berucap “Harus fokus pada satu hal.” Ia pun merasa tergugah untuk lebih berikhtiar dalam belajar. Sejak itu, berkaca pada dirinya, gadis asal Yogyakarta ini pun sadar. Ia harus mengurangi hal-hal yang kurang bermanfaat dan fokus pada niat awal untuk belajar, apapun rintangannya.

Motivasi lain adalah komunitasnya. Saat ini Hastu fokus mengajar bahasa isyarat pada lebih dari 200 orang relawan PLD di kampusnya. UIN memiliki Pusat Layanan Difabel (PLD) sebagai unit layanan untuk mahasiswa difabeL. Di sanalah Hastu berkecimpung. Menyadari minat teman-temannya yang besar dalam belajar bahasa isyarat, Hastu berinisiatif menjadi relawan pengajar. Komunitas ini dinamakan “Relawan Sahabat Inklusi.” Selain Hastu, banyak juga teman-temannya yang mendaftar. sebagai relawan pendamping akademik bagi mahasiswa tunadaksa, tunarungu, dan tunagrahita, dan tunanetra.

Saat mengajar bahasa isyarat untuk para relawan PLD yang baru

Mengembangkan Aplikasi Audio Book

Hastu juga sangat menyukai aktivitas pengembangan diri yang ia jalani. Bersama dengan rekan-rekan timnya -Tesya Nurintan, Millati Pratiwi, Azki Hidayatulloh Alfain, Ajie Dwihastadi, Ari Lukman Purnawirawanto, dan Khamdan Nahari- mereka mengembangkan Audio Book sejak Mei 2018.   

Aplikasi ojek daring memfokuskan pada layanan transportasi yang mempertemukan pengguna dengan pengemudi ojek. Bedanya, aplikasi Audio Book memfokuskan pada layanan bantuan bagi kaum difabel. Solusi inovatif ini mempertemukan antara user (difabel) dengan service provider (mahasiswa relawan) untuk beragam jenis bantuan. Misalnya ada user tunanetra yang memerlukan bantuan pemahaman materi pada satu mata kuliah tertentu. Di sisi lain ada relawan yang bersedia mengunggah suaranya membacakan buku atau catatan perkuliahan sesuai permintaan. Aplikasi ini memudahkan keduanya bertemu. Plus menyediakan fitur suara untuk tunanetra. Keren kan?

Tugas Hastu dalam pengembangan aplikasi ini adalah menggarap User Interface! Saat ini aplikasi tersebut tengah digarap untuk launching beberapa bulan ke depan. Nantikan updatenya ya!  

Untuk mendapat tambahan ilmu tentang pengembaangan aplikasi yang dimaksud, Hastu tergabung dengan Google Developer Students Club. Di sana ia mengikuti beberapa workshop yang mengembangkan kemampuan teknis. Mereka selalu bekerja dalam tim.

Bersama teman-teman Developer Students Club UIN SUKA seusai diskusi dengan tim staf PLD untuk membuat aplikasi

Seperti apa sih sosok Hastu menurut teman-temannya?

“Saya suka  berteman dengan Hastu karena dia ekspresif. Untuk jelasin sesuatu, harus ekspresif. Seru.” (Milla, teman satu angkatan)

“Hastu itu anaknya percaya diri banget. Banyak bertanya. Bakat seninya gede. Kreatif. Nggak minder sama sekali.” (Tesya,  sahabat di DSC)

“Mbak Hastu itu baik dan friendly, pekerja keras, nggak pantang menyerah. Dia selalu berusaha lebih.” (Nofri, adik kelas)   

“Kekurangan” sebagai Kekuatan

Satu hal yang pasti, “kekurangan” Hastu adalah kekuatannya. Ia belajar, berusaha lebih untuk hal yang kadang kita anggap sangat sederhana. Tidakkah itu yang membuat kita kuat?

Karena itu langkah dan mimpi Hastu tak hanya sejauh gerbang kampus.

Di Dicoding ia mendapatkan Beasiswa Kartini dari Indosat yang dianugerahkan pada ke-51 perempuan developer yang terpilih. Hastu satu di antaranya. Saat ditanya kenapa mendaftar, dengan mata berbinar ia menjawab “Ingin tambah pengetahuan cara membuat aplikasi.”

Terbukti. Kini Hastu tengah berjuang menuntaskan submission demi submission. Lagi-lagi “Pusing“ katanya. Meski demikian targetnya mantap: menuntaskan project movie catalogue-nya di kelas Menjadi Android Developer Expert. Ini selaras dengan hobinya, nonton,  dan jalan-jalan back to nature. Di channel youtube-nya ia mengunggah pengalamannya berkeliling di kota Malang.

Tapi itu dulu. Kini ia mengaku “Weekend saya kerjakan kelas MADE!” Wow semangat ya Hastu! Sama seperti kebanyakan peserta lainnya yang mengaku belajar MADE di kala senggang.

Anak ke-3 dari empat bersaudara ini juga berharap. Dengan skill yang ia miliki, ia ingin sekali membantu Komunitas Deaf Art. Saya punya teman-teman di sana.” Di sana teman-teman seperjuangan Hastu sangat gigih berkarya demi mencari nafkah. Batasan fisik ataupun apapun itu, bukan rintangan.

Semoga berhasil, Hastu. Kami bangga denganmu. Kamu hebat!  

Belajar mengembangkan aplikasi atau game dengan kurikulum yang telah divalidasi langsung oleh industri dengan Dicoding Academy.

Belajar di Dicoding Sekarang →
Share this:

Editor @ Dicoding

Leave a comment