Membuat Aplikasi untuk Next Billion Users

Membuat Aplikasi untuk Milyaran Pengguna Berikutnya (Next Billion Users)

Membuat Aplikasi untuk Milyaran Pengguna Berikutnya – Bagaimana caranya membuat aplikasi bagi milyaran pengguna berikutnya alias”Next Billion Users (NBU)”?  Sejak 2017 hal inilah topik yang mengemuka dan coba dijawab berbagai pemimpin industri teknologi seperti Google.

Bedanya, tahun ini jadi jauh lebih penting karena banyak perusahaan dan developer aplikasi di negara maju sudah mulai fokus ke negara-negara Next Billion Users. Tentu kita sebagai salah satu warga negara Next Billion Users tak boleh kalah cepat, apalagi di kandang sendiri.

 

Apa sih negara Next Billion Users (NBU)?

Negara Next Billion Users Market

Negara NBU adalah negara-negara dimana milyaran pengguna baru internet dan aplikasi mobile akan berasal. Belum semua warga negara ini mendapatkan akses ke internet dan perangkat seluler namun berdasarkan data dari Google, pertumbuhan akses / tersambungnya ke internet, sangat cepat.

Sebagai contoh, ada Brazil (baru 60% tersambung ke internet), Nigeria (baru 25% tersambung) dan Mesir (40% tersambung).  Mayoritas adalah negara Asia Selatan dan Asia Tenggara seperti India (30% tersambung), Pakistan (15% tersambung), Bangladesh (20% tersambung), Filipina (50% tersambung), Thailand (50% tersambung) dan tentunya negara tercinta Indonesia kita (baru sekitar 55% tersambung ke internet).

 

Kenapa negara maju melirik negara Next Billion Users (NBU)?

Apa yang menarik mengenai negara NBU sampai-sampai Google ingin spesifik mengembangkan aplikasi untuk negara-negara ini?

  1. 50% pengguna smartphone ada di Asia
  2. Ada 350 juta pengguna internet di Asia Tenggara
  3. Setiap tahun 40 juta pengguna internet baru bermunculan di India

Tentu ini berupa peluang yang besar bagi perusahaan dan developer aplikasi di negara maju.

Jika developer kita tidak cepat-cepat mempersiapkan diri, bagaimana jadinya?

Perangkat Selular adalah satu-satunya akses untuk warga NBU

Bagi mayoritas warga NBU yang baru tersambung ke internet, mereka hanya memiliki akses melalui perangkat selular. Kemungkinan besar, mereka tidak akan pernah memegang atau menggunakan internet melalui komputer atau kanal lainnya.

Phone Unique for Next Billion Users

Sebagai contoh, hanya 11% dari warga Nigeria yang akses ke internet memiliki komputer desktop.

Jika ingin kompetitif  di negara NBU, layanan harus dapat mudah digunakan melalui perangkat selular. Jalur paling mudah bagi web developer adalah belajar Progressive Web Apps. Bagi mobile developer, harus mulai siap menggunakan framework Flutter agar bisa menciptakan aplikasi yang dapat digunakan di semua platform termasuk mobile, web, embedded dan desktop.

 

Konten lokal (localized content) adalah kunci

Ini adalah salah satu poin yang sering dibicarakan dan developer Indonesia anggap mereka mengerti.

“Oh ya lokal, kan pakai bahasa Indonesia.”

Ini adalah pemikiran yang salah mengenai localized content.

Memang penggunaan bahasa lokal sangat penting namun tidak boleh berhenti sampai di situ saja. Aplikasi harus disesuaikan dengan budaya dan lingkungan masyarakat di negara itu.

Sebagai contoh, gambar yang kita gunakan untuk menggambarkan “bersantai” bisa berbeda tergantung pengguna kita warga Aceh, Bali atau Papua. Apa yang warga daerah tersebut intepretasikan sebagai “bersantai” dapat berbeda.

Tentu pernah mengalami mengajarkan cara pakai aplikasi ke orang tua atau orang lain dan mungkin sebal karena mereka pakainya lambat? Susah jika memaksa mereka agar bisa kan? Nah kita harus siap memposisikan diri kita seperti mereka. Pengguna aplikasi kita belum tentu seberuntung kita dalam pengalaman menggunakan perangkat selular dan internet.

Sebagai contoh adalah implementasi penggunaan voice recognition (suara) untuk menggunakan internet dan aplikasi di India. Hal ini karena 30% dari semua pencarian di Google yang dilakukan warga India menggunakan voice. Bagi mereka, berbicara lebih mudah dan nyaman daripada mengetik di keyboard atau perangkat.

Expect Next Billion Users change languages

Contoh lain adalah budaya komunikasi. Walaupun kita beranggapan bahasa internet adalah inggris dan lokal adalah indonesia, masih banyak dari kita yang menggunakan bahasa daerah ketika berbicara sehari-hari. Pernah ke pasar di Jogja? Harus siap mengerti berbagai kata seperti seket, sewu, gangsal dan sebagainya. Orang dengan budaya ini yang akan semakin banyak dan jika developer terlalu berprinsip dalam hanya menyediakan bahasa Indonesia atau Inggris, akan kalah dengan developer dari negara maju yang siap untuk menyediakan aplikasi mereka dalam bahasa daerah.

Budaya berbahasa ini akan terbawa ketika mereka menggunakan internet atau aplikasi. Mereka akan sering berubah setelan bahasa. Mungkin awalnya mereka pakai bahasa Inggris tapi ketika ada yang tidak dimengerti akan langsung merubah ke bahasa Indonesia. Bahkan jika bahasa dianggap terlalu kaku, akan berubah ke bahasa daerah.

 

Aplikasi harus dapat digunakan dengan berbagai spesifikasi perangkat

Mungkin dulu kita cuma kenal Nokia, kemudian Apple, Samsung, LG. Dalam tahun-tahun terakhir semakian banyak Original Equipment Manufacturer (OEM) masuk dan digunakan umum seperti Oppo, Xiaomi, Vivo dan lainnya. Tentu ke depan akan semakin banyak brand baru bermunculan.

Developer harus siap untuk memastikan aplikasi mereka berjalan di berbagai jenis perusahaan OEM tersebut. Ini berarti harus mulai belajar untuk dapat mengecilkan ukuran aplikasi dan memastikan selalu dapat berjalan di perangkat spesifikasi rendah.

 

Offline BUKAN situasi “Mau gimana lagi”

Offline No Error State for Next Billion Users

Banyak aplikasi membutuhkan akses ke internet untuk dapat berjalan. Seringkah sebagai developer, saat user di lokasi dengan sinyal jelek atau terputus dan jadi tidak dapat akses, lantas bilang: “Koneksi yang salah” / “Provider jelek” / “Beli pulsa dulu sana” / “Mau gimana lagi”.

Ini adalah cara pandang yang salah. Pengguna-pengguna baru aplikasi akan berada di daerah yang mungkin tidak dapat mendapatkan sinyal internet yang baik. Mereka akan masih menggunakan koneksi prabayar dan tentu menghemat pulsa untuk internet. Developer harus cari cara akan aplikasi dan layanan mereka dapat sebisa mungkin digunakan tanpa adanya koneksi ke internet.

Ingat kita ada di negara berkembang yang bahkan 4G saja bisa lebih lancar dan cepat dibandingkan wifi. Jangan disamakan dengan negara maju.

Berdasarkan data dari Google, 95% masih prabayar dan tidak selalu tersambung sinyal sepanjang hari.

 

Keragaman bukan masalah tapi aset

Sudah mulai kepikiran kalau ini terlalu ribet buat dijalankan? Harus selalu diingat bahwa developer yang bisa membuat aplikasi dan layanan mereka siap untuk Next Billion Users (NBU) adalah developer yang akan selalu kompetitif kedepannya.

Hal ini karena 40% dari 1.6 milyar koneksi baru di akhir 2020 akan berasal dari negara Cina, India, Nigeria, Pakistan dan Indonesia. Developer dan perusahaan yang sudah siap untuk merangkul pengguna dari negara-negara itu akan jadi perusahaan global berikutnya.

 

Secara teknis apa yang bisa dilakukan?

Yang pertama kali harus kalian lakukan adalah mengerti dan lebih siap untuk maju.

Kami akan berbagi berbagai tips teknis pada artikel blog berikutnya. Namun tips tersebut tidak akan dapat kamu jalankan jika belum benar-benar mengerti cara membuat aplikasi. Kalian bisa tingkatkan diri kalian ke standar kurikulum global dengan berbagai kelas dari Dicoding.
Pas banget sedang ada program beasiswa di dicoding.id/berbagibeasiswa

 

Kini lewat program “Berbagi Beasiswa Berbagi Berkah,” kamu bisa loh, belajar sembari berbagi beasiswa. Satu kelas pembelianmu akan berbonus satu kelas beasiswa untuk Generasi Muda Indonesia. Klik https://blog.dicoding.com/berbagi-beasiswa-berbagi-berkah/

Beasiswa Belajar Pemrograman

 

Belajar mengembangkan aplikasi atau game dengan kurikulum yang telah divalidasi langsung oleh industri dengan Dicoding Academy.

Belajar di Dicoding Sekarang →
Share this:

One comment, add yours.

Rizky syahferi

nice article

Leave a comment