Mimpi Seorang Game Developer untuk Memberangkatkan Orang Tua ke Tanah Suci

Dulu seorang seorang pecandu game, kini Agil Julio (22 tahun) naik kelas jadi seorang game developer dengan segudang awards.

Tak tanggung-tanggung, lulusan kelas Menjadi Game Developer Expert (MGDE) ini beserta timnya, mengukir prestasi pada  5 (lima) kompetisi game berskala nasional)* plus 12 Dicoding Challenge.

Sosoknya sepintas santai dan tak banyak bicara. Tapi dalam berusaha, tak ada kata santai dalam kamusnya.  

Apa pasal? Ia punya mimpi besar: memberangkatkan orang tua Tanah Suci, Mekah.   

Dalam sehari, ia mengaku hanya tidur 2-4 jam. “Pagi sampai sore saya selang seling antara magang di Dicoding atau kuliah, dan malamnya mengerjakan tugas kampus serta membuat video tutorial untuk channel youtube saya,” ketusnya semangat.   

Tanpa pikir-pikir panjang, April 2018 kami meminta kesediaan mahasiswa tingkat akhir UNIKOM Bandung ini untuk bergabung di Dicoding. Agil kini resmi memulai perjalanan baru sebagai anak magang. Perannya krusial, yakni “Game Academy Reviewer.”  Ia meninjau submission para peserta kelas dan membantu menyusun konten Game Academy. tahun sebelumnya, ia sempat pula mengisi posisi reviewer pada kelas Belajar Membangun Aplikasi Android untuk HTML 5.

Bagaimana Performanya?

“Profesional,”ujar Academy Officer Dicoding, Ahmad Imaduddin, yang juga menjadi supervisornya di kantor kami, Dicoding Space . Sebagai seorang game engineer, Agil memiliki skill yang bagus serta mampu menuliskannya ke dalam bentuk tulisan konten Akademi.

Saat ditanya mengenai pengalaman saat ini bekerja dengan tim Dicoding, pria berdarah Aceh – Betawi ini menjawab “Asik banget orang-orangnya. Bisa kenal dengan engineer yang berbeda bidang keahlian. Ada yang di Android, Web, Ops dan lainnya. Terus saya diajari banyak hal seperti belajar berdisiplin, etos kerja yang baik, dan sebagainya.”

Wah, jadi ge-er nih.

Eh tapi, intinya, cuma mau bilang kalau Dicoding akan senang hati bekerja dengan kawan-kawan se-Nusantara yang memiliki keahlian terdepan serta sikap diri yang terbuka pada proses belajar setiap saat. Just like him.

Memang di Dicoding semua staf dituntut untuk terus mengembangkan diri dan tak pelit berbagi ilmu.  

Fokus pada Game Virtual Reality dan Augmented Reality

Karakter di atas memang cocok dengan persona pria pendiri start up Nice Art Studio ini.  Ia mengaku timnya -mayoritas sesama mahasiswa teknik informatika satu almamater- terus fokus mengembangkan game berteknologi teranyar Virtual Reality (VR) dan Augmented Reality (AR).

Salah satu karya AR-nya yang mencuri perhatian dalam beberapa Dicoding Challenge adalah Game AR Belajar Binatang. Tujuan game edukatif ini sederhana: membuat anak-anak 3-6 tahun belajar mengenal dunia binatang dengan fun. Gayung pun bersambut. “Bahagia banget lo, waktu lihat anak-anak seneng maininnya,” ujar Agil.

Terlebih, game ini pulalah yang membuat kami menghadiahkannya satu unit laptop gaming Asus ROG GL553VD. Cadas!

Klik di sini untuk mengunduh game tersebut. Mungkin pas buat anak atau keponakan 😉

Bicara Soal Mimpi..

Melihat ke belakang, ayahanda dan ibunda Agil kerap sangsi akan hobi nge-game-nya yang “tak berfaedah.” Terlebih saat mengetahui pilihan karir sang anak sebagai seorang game engineer.

Namun perlahan melihat kesungguhan dan deretan prestasi yang diraih, hati sang orang tua pun melunak.

“Alhamdulillah kini orang tua saya sudah merestui apa yang saya lakukan. Saya ingin membuat orang tua saya bangga,” tutur anak kedua dari 3 (tiga) bersaudara ini sambil tersenyum lebar.

Agil mengaku bahwa memberangkatkan orang tua ke Tanah Suci adalah motivasi terbesarnya dalam berusaha.

Ia perlu motivasi semacam itu sebagai pemantik semangat. Sebagai developer, “rumit tuntutannya, penuh dengan struggle dan banyak rintangannya,” kutipnya. Mengutip istilah Agil: “capek untuk menang.”

Namun ia yakin dengan susah payah, evaluasi diri, menikmati proses, dan berdoa, ia akan tiba di tujuan.

Selain mimpi besarnya untuk orang tua tercinta, Agil juga bercita-cita bisa sharing tentang game development, baik di dalam maupun luar negeri. “Karena dengan berbagi, ilmu kita akan terus mengalir dan tak akan pernah putus,” ujarnya penuh harap.

“Kalau Ikut Dicoding, yang Aktif Sekalian”  

Menutup perbincangan kami, Agil ingin menitip pesan bagi kawan-kawan di Dicoding:

Jangan cuma main game. Jadilah pembuat game. Kalau sudah memiliki mindset seperti itu, kawan-kawan akan lebih mendalami apa itu game sebenernya.  

“Kalau mau bergabung dengan Dicoding, yang aktif sekalian. Jangan tanggung-tanggung. Ikut Dicoding Academy. Banyak banget benefit yang didapat. Ilmu dan pengalaman , pastinya. Lewat Dicoding Challenges, kamu bakal dapat point dan point tersebut dapat di redeem. Jadi kamu bisa dapetin barang sesuai kebutuhan kamu sebagai developer. Dicoding Event, kamu juga bisa punya banyak relasi dan berjejaring.”

Pesan tadi mengakhiri perbicangan sore dengan Agil Julio, salah satu top game developer lulusan kelas MGDE ini.

It’s been a pleasure to work with you, Agil.

Dan di luar sana banyak sekali developer hebat lainnya dengan skill yang hebat.

Is that you? Yes, you who read this!  

Buktikan -cukup pada dirimu sendiri- kalau usahamu juga hebat.

======

)* 1) Best 30 Games Yummy Yummy Tummy Challenges GDG Prime 2015 by Game Developers Gathering (GDG) Prime; 2) 3rd Winner IPB Game Dev Competition 2015 by IPB; 3) Best Audience Award Prototype Day ITB Bandung 2015; 43rd Winner Indosat Ooredoo Wireless Innovation Contest 2016; 5) Semifinalist in Imagine Cup 2017 by Microsoft Indonesia. 

Belajar mengembangkan aplikasi atau game dengan kurikulum yang telah divalidasi langsung oleh industri dengan Dicoding Academy.

Belajar di Dicoding Sekarang →
Share this:

Editor @ Dicoding

One comment, add yours.

Smartponsel

mantap juga yaa jadi game developer, apalagi kalau udah ikutan kompetisi kayak gitu.
kelasnya udah beda cuy hehehe

Leave a comment