Lika Liku Membangkitkan Gairah Belajar Mahasiswa: a Story by Yoel Pieter Sumihar

Masalah Kekinian di Kalangan Mahasiswa: Kecanduan Game

Mahasiswa kecanduan game. Inilah tantangan yang kerap ditemui Yoel Pieter Sumihar, dosen Universitas Kristen Immanuel, Yogyakarta. Dalam beberapa kesempatan mahasiswanya sampai  bolos kuliah karena malamnya begadang main game. “Teman-teman (dosen) di kampus lain juga mengeluhkan hal yang sama, Mbak,” ujarnya muram.

Banyak studi yang menelaah dampak kecanduan game. WHO menyebutkan bahwa pada level tertentu, asyik bermain game bisa menjurus pada internet gaming disorder (IGD), yakni kelainan yang disebabkan perilaku kecanduan (IDC, 2018). Psikolog ahli dapat mendiagnosanya lewat metode khusus.

Adakah di antara teman-teman yang punya sobat atau bahkan pengalaman pribadi serupa?

Biasanya ada perubahan dalam diri yang bersangkutan (pecandu game-red). Misalnya kelengketan (attachment) sosial berkurang; suasana hati (mood) yang tak menentu; stress; dan -yang paling sering- gangguan tidur.

Hal tersebut juga diamati Pak Pieter dalam diri sebagian mahasiswanya. “Nggak ada gairah untuk belajar,” ucapnya.

Tapi itu dulu.

“Aha” Moment di Program ADF

“Aha” moment datang saat ia mendapat tools baru untuk mengajar, yakni materi Android Developer Fundamentals (ADF), pengayaan dari Google untuk para dosen yang diselenggarakan di UIN Yogyakarta tahun 2017 lalu.

Pak Pieter merasa telah menemukan secerca harapan. Ia yakin materi dan tools baru Android –mobile operating system dengan pengguna 3 (tiga) dari 4 (empat) orang di seluruh dunia (gs.statcounter.com)-  bisa membuat mahasiswanya lebih up-to-date dan  bersemangat. “Mahasiswa suka pengetahuan praktis dan kekinian,” ujarnya positif.

Ia mantap ingin mengatasi kebiasaan buruk nge-game berlebihan di kalangan mahasiswa dan  membangkitkan gairah mereka untuk belajar. Untuk itu pria asal Medan ini paham benar bahwa ia harus menawarkan perspektif yang lebih luas ketika mengajar.

Tak berapa lama  ia memperoleh info 1,000 Beasiswa Google untuk Dosen dan Mahasiswa di awal 2018. Tanpa pikir panjang, beliau langsung mendaftar. Dengan beasiswa ini beliau bersyukur bisa terpilih mengikuti materi kelas Menjadi Android Developer Expert tanpa dipungut biaya.

Apa yang berubah dari cara beliau mengajar mengikuti program tersebut?

Perspektif Luas dan Tawa di Ruang Kelas

Pertama ia merasa bisa membawa materi baru dengan perspektif yang luas. Dengan kelas ini “saya jadi punya lebih banyak ilmu, dan implementasi teori untuk saya ajarkan,” khususnya di mata kuliah Mobile Programming.  

Perubahan lainnya adalah gaya mengajar. Kini beliau jauh lebih luwes. Dalam beasiswa Google dosen wajib memberi rujukan kepada mahasiswa yang ingin mendaftar. Artinya, ada faktor engagement yang lebih antara dosen dengan anak didik. Lewat rujukan, pengajar sangat berperan memberikan kepercayaan dan kesempatan bagi anak didiknya untuk maju.

Memang Pak Pieter merekomendasikan banyak mahasiswanya untuk mendaftar. Otomatis dalam kesehariannya, dosen yang menamatkan studi pascasarjana di UGM ini jadi lebih sering berinteraksi dengan mahasiswa/i yang ia asuh.

Hal ini diakui Yanes Rivki Yunius, salah seorang anak didiknya, “Ngajarnya jadi asik, banyak bercanda. Kalau ngoding sama Pak (Pieter) dikasih implementasinya juga. Saya sengaja ambil (mata) kuliah yang Pak Yoel ajarin.”

Pak Pieter yang dulu sempat jauh berjarak dengan anak didiknya, kini jadi sosok yang lebih bersahabat dan sering “ledek-ledekan.”  

Bertemu Sosok-sosok Hebat di Google Developer Kejar

Tak cukup sampai di situ. Dosen muda ini juga ingin sekali menghidupkan kembali komunitas Android di Ukrim. “Saat ini itulah semangat saya. Saya ingin mahasiswa saya lebih berkembang dalam komunitas,” ungkapnya.

Motivasi tersebut membawanya terpilih sebagai fasilitator program Google Developer Kejar Batch 1.

WOW, selamat pak, asuhan Bapak bertambah 16 orang! Kini beliau membimbing para peserta Kejar (Kelompok Belajar) menyelesaikan kelas Kotlin Android Developer Expert.

Dalam program Train the Trainer para Fasilitator bulan lalu di Jakarta ia bertemu sosok-sosok hebat yang menginspirasi. Salah satunya adalah pembicara asal Semarang yang mundur bekerja dari sebuah unicorn demi -salah satunya- mengembangkan komunitas developer di kotanya.

Dalam hatinya ia juga ingin mahasiswanya turut hadir dalam ruang-ruang diskusi ini, mendengarkan

celotehan, dan merasakan letup semangat para expert di dunia IT.  Ia berhasrat mendengar mahasiswanya bercerita tentang proyeksi karir dan masa depan dengan semangat yang berapi-api.

Pak Pieter di acara Train the Trainer di Google Head Office Jakarta, Agustus 2018 lalu

Sebagian besar para Fasilitator terpilih pada Google Developer Kejar 2018 Batch I

“Motivasi Jadi Mahasiswa IT itu, Harus Bener

Di mana pun ia mengajar ia yakin bahwa dengan perspektif yang luas dan tawa di ruang kelas,

ia bisa menghidupkan semangat mahasiswanya untuk maju. Salah satunya maju berlari meninggalkan nge-game berlebihan menuju esok yang menjanjikan.

Pesan beliau cuma satu, eh dua. “Jadi mahasiswa IT itu, motivasinya harus bener. Jaman now dengan luasnya sarana belajar, tidak ada alasan untuk tidak mengembangkan diri.”

SUPER! Sukses senantiasa untuk Bapak.

Belajar mengembangkan aplikasi atau game dengan kurikulum yang telah divalidasi langsung oleh industri dengan Dicoding Academy.

Belajar di Dicoding Sekarang →
Share this:

Editor @ Dicoding

Leave a comment