Lewat Ngoding, Putra Lereng Gunung Sumbing Berkarya untuk Negeri

Namanya Nur Rohman. Anak seorang petani di lereng Gunung Sumbing di Temanggung, Jawa Tengah. Rohman kecil tak pernah membayangkan masa depannya seperti sekarang. Usianya terbilang muda, 23 tahun. Tapi Dicoding Engineer ini telah khatam menulis buku Kotlin Android Developer Expert bersama  Rendra Toro. Ia satu-satunya di Indonesia penyandang dua predikat “Samsung Developer Warrior” dan “LINE API Expert” sekaligus.

Bagaimana kisah perjalanannya?

Yo Wis Ben dan Restu dari Kedua Orang Tua

Mayoritas penduduk di tanah kelahiran Rohman adalah petani. Ladang tembakau, urat nadi desa ini. Hasil buminya berupa tembakau kering turut menghidupi industri rokok di Kudus, Jawa Tengah.

Rohman kecil suka main tanah, tapi melesat kabur saat diminta orang tuanya menggarap sawah. Meski demikian sang ayah tak pernah memaksanya menenteng cangkul. Ia mengerti sang anak “berbeda” dari sebayanya.

Saat tak satupun orang di desanya memiliki komputer, Rohman sudah gemar ngoprek HP dan PC. Matanya berbinar saat berhasil mengoprek HP symbian miliknya yang ia instal dengan game kesukaan. Pelajaran komputer di lab SMP memantik kecintaannya pada dunia IT.

Selepas SMP, kebanyakan teman-temannya lanjut “sekolah” di ladang. Tidak dengan Rohman. Ia tahu apa yang ia mau: belajar komputer di SMK.

Lalu berbekal restu dan filosofi yo wis ben dari ayah dan ibu, jadilah Rohman merantau ke Yogya. Ia kuliah Teknik Informatika di kampus UIN.

Selepas mengantar Rohman ke kos-kosan, sang ayah hanya berpesan “Jadilah orang yang berguna.” Tak muluk-muluk, memang. Tapi itu cukup membuat Rohman tertegun dan berpikir lama. Ia sadar betul, sangat jarang pemuda di kampung halaman yang bisa sekolah hingga pendidikan tinggi seperti dirinya. Kesempatan ini tak boleh ia sia-siakan.

Melakoni Cinta pada Programming

Sepintas jika kamu membayangkan Rohman sosok yang fierce dan ambius, kamu salah.  “Aku tu nggak ada ekspektasi apa-apa,” tuturnya woles.

Dengan spirit “let It flow,” jomblowan ini melakoni passion (baca: cinta) -nya dalam hal programming. Sungguh-sungguh.

Kalau sudah kenal dan ngobrol lama dengan Rohman, kamu akan ngerti dua hal. Pertama, Bahasa Indonesia-nya asli medok banget. Kedua, ia memang mencintai apa yang ia lakukan. Ia tak pasang target apa-apa. Apapun hasilnya nanti, tetap disyukuri saja.

Sedari awal kuliah Rohman aktif ikut kelompok studi mahasiswa. Ia sangat termotivasi para praktisi muda di dunia pemrograman Android seperti Aulia Faqih, Najib Abdillah, dan Sidiq Permana. Ketiganya juga merupakan figur esensial bagi Dicoding lewat keahlian masing-masing. #salim

Kekuatan Cinta: Bisa Berprestasi dan Cari Duit Sendiri

Iseng-iseng Rohman mulai ikut berbagai kompetisi. Ia menorehkan prestasi pada 7 (tujuh) kompetisi di level nasional.)* Salah satu yang paling berkesan waktu ia terpilih sebagai semifinalis Imagine Cup 2015 di mana ia membuat simulator wayang.

Beginilah kekuatan cinta. Tak hanya berbuah prestasi. Tapi juga jadi PD alias nekat daftar kerja full-time di GO-JEK. “Udah gede, malu. Masa masih minta sama orang tua,” katanya terkekeh.

Hasilnya.. berhasil! Sejak semester 5 Rohman bisa cari duit sendiri. Ia memulai debutnya sebagai Product Engineer dengan spesialisasi Android.

Tak Terduga, Rezeki itu Datang dan Pergi

Katanya, rezeki itu datang tak diduga-duga. Suatu sore, saat galau lantaran harus pilih antara menuntaskan kuliah atau pindah bekerja di GO-JEK Jakarta, teleponnya berdering. Tak disangka, CEO Dicoding menawari Rohman posisi Dicoding Engineer. “Gairahnya untuk komunitas sangat tinggi,” Narenda Wicaksono beralasan.

Tanpa pikir panjang, Rohman menyanggupinya. Ia menjadi salah seorang penanggung jawab dalam kolaborasi akademi online “LINE Chatbot” dan “Samsung SDK.” Dukungan Rohman memungkinkan seluruh developer di Indonesia belajar di kedua kelas tersebut di Dicoding Academy.

Namun, sempat pula rezeki tak menghampiri. Aplikasi visanya pernah ditolak kala mendaftar hadir di Samsung Developer Conference di Amerika Serikat. Eh gantinya, dapat kesempatan lain untuk ikut dalam Google Developer Day 2017 di Bangalore, India.

Wow! Bener kan, rezeki memang nggak kemana 😉

Lewat Kotlin, Bisa Ngoding, Menulis, Berbagi untuk Negeri

Ngoding, menulis, dan berbagi. Itulah hobinya. Saat ditanya adakah hobi lain di luar itu, ia pikir-pikir lama dan akhirnya menjawab “nggak ada!.” Wassalam. Hardcore (dan developer pada umumnya) banget ya ini 😀

Kini Rohman paling sering ngoding, menulis, dan berbagi mengenai Kotlin. Ia dan sang mentor, Rendra Toro, menyiapkan materi Kotlin Android Developer Expert selama beberapa bulan sebelum akhirnya kami rilis kelas Kotlin di awal 2018.

Berkatnya pula, kini ribuan kawan-kawan Dicoding Accademy di seluruh nusantara bisa belajar dan menikmati sepaket kelas dan buku Kotlin Android Developer Expert.

Saat ditanya: “Seneng?,” ia menjawab “Seneng dong. Apalagi orangtua dan adek perempuanku!” ujarnya bangga. “Adikku itu seneng banget waktu aku tunjukkin foto-fotoku ngomong di seminar.”

Sejak 2017 Rohman selalu diandalkan sebagai narasumber dalam developer event di level nasional dan komunitas. Dari Batam hingga Jayapura, Rohman telah berbagi ilmu ke ribuan pengembang. Mungkin kamu salah satunya 😊?

Stop Ngeles “Programming itu Susah” 

Menutup obrolan sore itu, ia mengungkapkan rasa syukurnya. “Alhamdulillah di sini (Dicoding), saya jadi belajar banyak dan dekat dengan komunitas developer yang luas.”

Harapannya, semoga kawan-kawan developer juga bisa memetik manfaat sebesar-besarnya dari Dicoding.  So sweet…<3 

“Sekarang, belajar itu mudah. Di Dicoding banyak input dari senior-senior yang ahli. Semua materi programming dalam Bahasa Indonesia. Nggak ada alasan untuk bilang programming itu susah. Referesi ada, komunitas ada. Tinggal niatnya,” serunya bersemangat.

Do What you Love, and Love What you Do. Repeat

Pemuda woles asal Lereng Gunung Sumbing ini telah membuktikan pentingnya “Do what you love, and love what you do.” Urusan hasilnya, tak usah ambil pusing. Semua sudah ada Sang Pengatur.

Tetap santai, ia mengaku tak punya goals spesifik yang ingin diraih.

Ia hanya ingin terus berkarya menelurkan hasil yang bermanfaat untuk banyak orang.

Got it, Rohman. Tetap berkarya yah!

 

)* 1) Top Developer Mentor – Dicoding Developer Award 2016; 2) Finalist Hackathon IWIC 10 by Indosat 2016; 3) Intel Top Developer by Dicoding, Intel, 2015; 4) Finalist Hackathon Merdeka 2.0 by Code4Nation 2015; 5) Winner Intel NDK Education Challenges by Intel and Dicoding 2015; 6) Semifinalist ImagineCup 2015 Indonesia by Microsoft 2015; 7) Finalist Intel Realsense Apps Challenges by Intel 2015

Belajar mengembangkan aplikasi atau game dengan kurikulum yang telah divalidasi langsung oleh industri dengan Dicoding Academy.

Belajar di Dicoding Sekarang →
Share this:

Editor @ Dicoding

Leave a comment