Letup Semangat dari Timur Indonesia: Pemenang Local Challenge Papua, Sulawesi, dan Kalimantan

Dalam tiga tahun terakhir Dicoding telah mengadakan 153 Challenge. Hasilnya, 4.200 games dan aplikasi dari developer Aceh hingga Papua.

Challenge favorit kami, pastinya local Challenge. Challenge seperti ini dikhususkan bagi developer dari provinsi tertentu. Ajang pencarian bakat ini telah berlangsung sejak tahun 2016, berbarengan dengan penyelenggaran Bekraf Developer Day.

Tentu familiar dengan tajuk Challenge “Made in Bogor,” “Made in Yogyakarta” bukan? Atau bahkan rekan-rekan pernah mengikutinya?

Yap! Dicoding telah meluncurkan 11 local Challenge di 11 provinsi. Tahun 2018 kami telah menjangkau Kepulauan Riau hingga Papua.

Yang bikin semangat itu, letup semangat para developer peserta Challenge. Rata-rata kami mendapatkan 26 peserta di setiap local Challenge. Submission peserta bisa berupa aplikasi mobile/PC, games, atau lainnya. 

Sepanjang 2018 ada 3 local Challenge di Indonesia Timur, yakni Made in Papua, Made in Celebes, and Made in Kalimantan.

Penasaran? Ini dia ulasan para jawaranya.

1. Antivirus “ANJAV” dari Papua

Pengguna PC kerap meradang karena serangan malware di PC. Seperti yang dialami Aming Anjas Asmara Pamungkas saat dia masih duduk di SMKN Sentani, Jayapura, dulu. Komputer fasilitas sekolah sering terkena virus. “Dari situ saya coba cari tahu apa virusnya, bagaimana virus itu dibuat, sehingga jadi antivirus,” ujar pemuda yang hobi main game ini. Itu sebabnya ia belajar menggunakan aplikasi visual basic untuk membuat antivirus ini secara otodidak. Selama setahun pria 21 tahun ini rajin menggarap sebuah antivirus yang belakangan dinamakan “ANJAV.” Sekarang program ini sudah diunduh lebih dari 8.400 kali.

Keunggulan tersebut membawa ANJAV keluar sebagai pemenang “Made in Papua.” Di BDD di Jayapura bulan Mei 2018 lalu, Aming berkesempatan menunjukkan hasil karyanya kepada khalayak, termasuk pers setempat, dalam sebuah stand pameran.

Aming (paling kanan) berpose di acara BDD Jayapura bersama rekan-rekannya.

ANJAV tergolong ringan dengan ukuran berkas hanya 6.5 MB. Interface-nya user-friendly. Tampilannya pun simpel. Untuk memindai komputer, terdapat 3 pilihan, yakni full system scan, quick scan, dan files and folders scan.

Untuk memindai PC, pengguna ANJAV bisa memilih 1 dari 3 pilihan tersedia, yakni full system scan, quick scan, atau files and folders scan.

“Saat ini saya tengah menggarap update programnya,” ujar mahasiswa semester 7 Teknik Informatika STIMIK Sepuluh November Jayapura ini. Selama ini memang ANJAV dibangun dengan one man show alias semua ia kerjakan sendirian. “Tapi ke depannya saya ingin membentuk tim untuk pengembangan lebih lanjut” tambahnya.

PC-mu bermasalah dengan virus dan malware? Klik di tautan ini untuk membaca detail dan mengunduh ANJAV https://www.softpedia.com/get/Antivirus/ANJAV-Antivirus-2013.shtml 

 

2. Aplikasi Pesan Antar Makanan “Foodme” dari Kendari

Saat lapar tapi malas keluar, ingat ada layanan pesan antar. Angkat gawai, pilih menu, dan pesan via aplikasi. Is it you?

Rekan-rekan kita di Kendari pun demikian. Bedanya, bukan aplikasi transportasi online level unicorn yang jadi primadona di sana, melainkan “Foodme.”

Foodme dikembangkan oleh Zulqifli Hedrianto (27 tahun) dan Techno’s studio dari Kendari. Lulusan Universitas Halu Uleo ini jeli melihat potensi bisnis. Ia melihat budaya kuliner di kota Kendari mulai populer sejak 2016. Ia yakin bisa memanfaatkan potensi tersebut dengan keahlian programming-nya. Apalagi waktu itu pemanfaatan teknologi dalam pemasaran dan pemesanan makanan, sangat minim. Komunikasi pembeli-penjual terbatas pada chat instant messaging atau media sosial.

Foodme lalu berkembang dan hadir dalam 2 platform, yakni web untuk penjual dan aplikasi untuk pembeli. Aplikasi ini sudah diunduh lebih dari 6,000 kali dan memiliki 2,800 pengguna aktif. Foodme melayani sedikitnya 50 order per hari. Tujuh (7) kurir mereka siap berkeliling menjemput dan mengantar pesanan. Mayoritas order datang dari pegawai kantoran dan pelajar SMA di waktu makan siang.

Foodme juga memiliki misi membina UMKM di Kendari. Tim Techno’s Studio memberikan tips agar para pengusaha makanan dan minuman memperhatikan aspek higienitas, packaging, dan promosi.  

Dalam suatu kesempatan pelanggan sempat complain kepada tim Techno’s karena makanan pesanannya hanya dikemas minimal menggunakan plastik kiloan. Sejak itu, Zul bertekad melatih UMKM tentang marketing dan hal-hal penting lainnya. Semua agar berorientasi pada kepuasan pelanggan.

Dicoding menobatkan Foodme sebagai pemenang Challenge Made in Celebes Agustus 2018 lalu. Pengalaman menariknya, “Pernah waktu itu ada orang Jakarta mesen di Foodme untuk keponakannya yang lagi sakit di RS di Kendari,” cerita Zul. Tim Techno’s kini terdiri dari 8 orang. Tim bertugas mengelola Foodme dan berapa cabang bisnis lainnya.

Zul (kedua dari Kanan) bersama timnya, Techno’s Studio. Menang Challenge Made in Celebes membawanya menempati stand pameran di acara BDD Makassar Agustus lalu.

Pemuda yang telah lulus 11 kelas Dicoding Academy ini bercita-cita membawa Techno’s menjadi perusahaan IT terdepan di Indonesia Timur. Kita doakan ya! 

Zulqifli (baris depan, ketiga dari kiri) juga terpilih menjadi salah satu dar tim Fasilitator Google Developer Kejar 2018

Penasaran seperti apa Foodme ini? Cek dan unduh di

https://play.google.com/store/apps/details?id=com.ionicframework.foodme537448

3. Game TPSS “Our Last Stand” dari Samarinda

Saat memacu motor untuk mengantar adik ke sekolah, Habib Abdullah Wahyudi (20 tahun) mendapat panggilan telepon. Setengah tak percaya, samar-samar ia mendengar bahwa karyanya menang Dicoding Challenge “Made in Kalimatan.” Hatinya senang bukan main.

Habib mengaku bahagia bukan karena hadiah 2,000 Dicoding Points ataupun kesempatan berpameran di Balikpapan. Ia merasa terharu “jerih payah saya, diterima.”

Habib (kiri) diminta naik ke panggung BDD Balikpapan untuk memperkenalkan diri dan game besutannya.

Our Last Stand: the Arena adalah mini game PC offline ber-genre Third Person Shooter Survival (TPSS). Pemuda Kendari ini mengembangkan game tersebut sendirian dan kemudian meluncurkannya pada Maret 2018.  

Menu utama Our Last Stand

Karakter utama di game ini harus mengalahkan zombie.”Saya suka sama zombie-zombie-an tapi bukan zombie yang berdarah-darah. Di sini zombie-nya soft,” ujarnya menyeringai

Berawal dari suka, akhirnya ia memutuskan untuk belajar bikin game dengan serius. Mimpinya, jadi game developer profesional. Ia mengambil jurusan Rekayasa Perangkat Lunak semasa kuliah di SMKN 7 Samarinda. Kemudian lanjut berkuliah di Sistem Informasi STMIK Wicida, kampus yang ia pilih karena ada materi game development-nya. Ia rajin belajar otodidak dan mendatangi talkshow.

Sampai pada suatu hari laptopnya dicuri. Semua progress pengembangan game pun raib. Alhasil, ia harus memulai dari nol. “Nggak apa-apa, saya tetap semangat!” ujarnya optimis.

Setahun digarap, Game Our Last Stand pun tuntas. Game tersebut menyuguhkan karakter zombie dengan nama unik seperti “begal” hingga nama-nama game youtuber kondang: Joseph Permana (JosephfardGaming) dan Renaldy Maulana (RedlineBoomBoom). “Begal” ia pilih karena nyawanya pernah selamat dari aksi begal yang gagal. Sementara nama para youtuber ia pilih karena mereka berjasa memainkan dan mempopulerkan game ini.  

Suka nge-game dengan karakter zombie membawa Habib mengembangkan permainan bergenre demikian

Game ini gratis dan ringan, hanya 600 MB saja. Telah diunduh lebih dari 10,000 kali, salah satunya di tautan ini https://www.indiedb.com/games/our-last-stand-the-arena. Berminat?

Gimana, keren-keren kan karya digital mereka?

Harapan kami, sederhana.

Melalui Challenge dari Dicoding, Aming, Zulkifli, Habib, dan semua local champion lainnya, bisa dapat feedback dari user atau industri, dalam skala yang lebih luas. Jadi kesempatan berkembang pun, semakin besar.

Kini giliranmu. Tunggu kami ya di local Challenge berikutnya.

Pantau terus https://www.dicoding.com/challenges untuk tahu Dicoding Challenge pilihanmu.  Siaaap?

Belajar mengembangkan aplikasi atau game dengan kurikulum yang telah divalidasi langsung oleh industri dengan Dicoding Academy.

Belajar di Dicoding Sekarang →
Share this:

Editor @ Dicoding

Leave a comment