Kinanti Taufik: Membersamai Keluarga, Membesarkan Dicoding

Tiap perempuan -terutama bagi yang menikah dan dikaruniai anak- kerap dilema. Pilih kerja atau di rumah? Bagi Kinanti Taufik, komisaris Dicoding, perempuan tak semestinya memilih. “Sembari membersamai keluarga sebagai peran utama, perempuan punya kesempatan dan kekuatan untuk berkarya dan berkontribusi bagi masyarakat.” Terbukti. Dari rumah, ia merintis dan membesarkan Dicoding hingga kini.  

Berdua Merintis Dicoding

Tanpa Kintan -begitu panggilannya- mungkin tak ada Dicoding. Ia dan suami, Narenda Wicaksono menyadari bahwa talenta hebat developer Indonesia tersebar di pelosok tanah air. Namun saat ingin belajar dan berkarya lebih, para developer ini kerap terkendala akses dan bahasa. Dari situ Kintan dan Naren bermimpi “Ingin membantu developer di Indonesia menjadi developer terbaik yang berdaya saing di tingkat nasional maupun global.” Dicoding lahir di awal 2015 untuk mewujudkannya.

“Saat merintis dan mengawal Dicoding, kami tidak punya pendapatan tetap sebagai keluarga dengan anak dua. Ketar-ketir. Sempat mepet dan pas-pasan,” ujarnya. Namun perempuan yang lahir di Bandung 32 tahun silam ini yakin bahwa “Rezeki sudah ditetapkan oleh Allah SWT.” Terbukti. Hampir empat tahun berselang. Dulu 3 orang, kini 15 orang staf. Dulu hanya puluhan, kini developer hub ini telah menjangkau lebih dari 125,000 orang.

Bertiga bersama suami dan buah hati ketiga mereka

Penasaran gimana Ibu dengan tiga anak ini ada di balik itu semua? Yuk kita kenalan lebih dalam.

Hatinya, Aktivis. Karakternya, Akademisi

Kintan adalah pribadi yang rame menyenangkan sekaligus pemikir. Tumbuh dari keluarga yang hangat.

Aktivis peduli satwa yang hingga kini menjadi relawan di Indonesian Society for Animal Welfare (ISAW) dan PROFAUNA. Peduli tentang perlindungan satwa liar dan habitatnya? Bisa kontak Kintan untuk sosialisasi tentang pentingnya menjaga satwa liar hidup di alam bebas. Aksi lainnya antara lain menolong sapi-sapi korban bencana Lombok dengan distribusi pakan hijau untuk ternak. Uniknya, kolaborasi Kintan – Naren ini juga sempat hadir di Dicoding dengan “Wildlife Game Challenge” di tahun 2015.

Kintan dan tim Profauna menerima elang dari warga untuk dilepasliarkan ke area konservasi

Mengajak anak-anak PAUD untuk mencintai satwa

Sempat mengajar Politik Lingkungan Global dan Diplomasi di jurusan Ilmu Hubungan Internasional FISIP UI dari tahun 2010-2015. Menulis artikel dan dokumen penelitian itu, hobi dan keahliannya. “Soal karakter, aku ini akademisi. Aku selalu penasaran!” seru salah seorang penulis buku Tata Kelola Lingkungan Hidup Global ini. Kintan menuntaskan pendidikannya di bidang HI, Komunikasi, dan Lingkungan Hidup dari (berurutan) UI, London School of Public Relations, dan School of  Asian and Oriental Studies, University of London.  

Seusai memberikan presentasi “The Politics of Citizen Engagement and Development” dan mewakili Universitas Indonesia di sebuah konferensi di University of Hong Kong tahun 2017.

Saat masih menjadi mahasiswa S1, dalam sebuah kompetisi nasional, Kintan terpilih sebagai Duta Muda ASEAN sebelum akhirnya berkarir sebagai konsultan komunikasi. Selaras dengan gelar pasca-sarjana-nya. Bertemu suami saat keduanya bekerja di Microsoft. Memulai rumah tangga di usia cukup muda, 23 tahun.

Tentang Meluruskan Niat

Setelah menikah, jelas baginya bahwa ia punya tugas baru: “Mendukung suami untuk menjadi the best that he can be,” ujarnya. Saat itu sang suami sedang di puncak karirnya sebagai Developer Relations di Nokia Indonesia. Hingga mereka tiba di sebuah titik di mana mereka harus memilih. Antara hidup dalam kenyamanan. Atau meninggalkan zona nyaman untuk merajut mimpi sendiri. Mereka memilih yang kedua.

Awalnya Naren sempat merintis 7 startup sebelum akhirnya memutuskan untuk melepas semuanya, terkecuali satu: Dicoding. “Meluruskan niat itu penting,” ujar Kintan. “Pilih Dicoding karena niatnya konsisten, memajukan ekosistem developer di Indonesia,” ujarnya.

Mendirikan startup memang tak mudah. Tabungan hampir seluruhnya terpakai. Dalam situasi demikian, Kintan sempat bertanya pada sang suami “Perlukah aku bekerja supaya dapat penghasilan tetap?” Dengan dua balita kala itu, tuntutan pemasukan memang lebih terasa. Namun jawabannya, selalu sama. “Tidak perlu.”

Jawaban itu melegakan baginya. Dari rumah, ia bisa hadir secara lahir batin untuk suami dan anak-anaknya. Ia yakin bahwa perempuan bisa mendukung suami dan anak-anak justru dengan ikhlasnya saat ia hadir dalam keseharian di rumah, dan membantu pekerjaan suami saat diperlukan. “Aku bisa kasih nasihat, beri pandangan lain dan saran atau solusi jika Naren ada masalah,” ujarnya.

Berpikir Ulang tentang Emansipasi dan Kesetaraan Gender  

Menulis jurnal ilmiah, mengurus legal dan keuangan Dicoding, terlibat aktif dalam kegiatan perlindungan satwa, dan menjadi mahasiswa pascasarjana dengan metode pembelajaran distance learning. Semua ia lakukan dari rumah alias ranah privat.

Berkaca darinya, bisakah kita bertanya: “Apa kabar emansipasi dan kesetaraan gender?”

Emansipasi dan kesetaraan gender kerap dimaknai sebagai gerakan yang menginginkan representasi perempuan dan hak-haknya yang sama dengan laki-laki di ranah publik. Misalnya keterwakilan di sistem parlemen, kuota minimal persentase perempuan di ruang kerja, dan kesempatan yang sama untuk berkembang dalam karir dan pendidikan bagi perempuan, seperti halnya laki-laki.

Menurut Kintan, kini kedua hal di atas harus dipikir ulang. “Saatnya berpikir tentang pentingnya peran ibu/perempuan sebagai pemimpin di rumahnya. Perempuan punya tanggung jawab untuk membesarkan, mendidik dan menjadi madrasah bagi anak-anaknya.” Ia berpendapat bahwa masyarakat selayaknya memberikan dukungan agar perempuan bisa menjalankan peran tersebut. Termasuk memberikan fleksibilitas kerja bagi perempuan yang ingin berkontribusi di ranah publik dari ranah privat dengan kompensasi yang cukup.

Namun demikian, Kintan pun sadar. Syarat dan ketentuan dunia kerja dan karakteristik bidang pekerjaan yang ada, belum sedemikian fleksibel. Tak semua perempuan mau di rumah. Tak semua perempuan juga punya modal wirausaha. Banyak perempuan Indonesia hanya punya satu pilihan: bekerja di luar rumah. Ibu yang sendirian membesarkan anak-anaknya, misalnya. Juga Ibu yang kontribusi finansialnya menyambung nyawa ekonomi rumah tangga.  

Apakah ini mengingatkan pada Ibu kalian? Telepon beliau sekarang ya 😊

Setidaknya Kintan telah merealisasikan visinya di alinea pertama, di Dicoding. Kini terdapat tiga orang kontributor perempuan, ketiganya adalah ibu rumah tangga dengan beberapa orang anak, yang berkontribusi untuk Dicoding dari rumah mereka dengan waktu yang fleksibel.

Perempuan dan Perannya

Setiap manusia, termasuk perempuan, punya peran peradaban sendiri-sendiri. Setiap perempuan juga punya passion atau sense of purpose alias panggilan hidup. Peran dan passion ini, penting bagi perempuan untuk maju.

Kintan berharap bahwa perempuan harus bisa berkarya dalam peran dan passion-nya bagi kepentingan publik, dari rumah, tanpa diskriminasi.

Bersama 2 dari 3 buah hati mereka

“Apa ada yang ‘rendah’ dengan memasak dan bebersih rumah? Apakah menghadiri meeting lebih penting daripada hadir dalam kehidupan anak-anak kita? Apakah kita mau mendelegasikan saja semua peran di ranah privat kepada seorang ART dan melewati masa-masa yang tak akan terulang kembali karena ilmu kita terlalu mulia untuk itu semua?”

Ia bertanya dan mengajak kita berpikir ulang.  

Jika kamu menghadapi dilema yang sama, kamu tidak sendirian. Dari Kintan, kita bisa belajar bahwa:

  1. Niat itu penting. Saat berumah tangga, luruskan niat. Apa yang hendak dicapai bersama? Apa  peran masing-masing untuk mencapainya? Berbagi tugas dan tanggung jawab berdua, tak kalah penting.   
  2. Kita tak perlu khawatir soal rezeki. Rekening rezeki sudah diatur Tuhan yang Maha Pemurah. Rezeki tidak hanya berbentuk uang, melainkan kesehatan, kebahagiaan, anak yang sholeh. Inilah pegangan kala diterpa ombak dan badai.
  3. Ikhlas. Hadir secara fisik dan emosional bagi orang-orang tersayang.
  4. Jadilah ‘the best version of yourself’. Sadari peran penting yang kita miliki. Lakukan yang terbaik saat ini juga. Berikan karya terbaik yang kita bisa, di manapun kita berada.  

Terima kasih, Kintan. Perbincangan denganmu membuka mata tentang banyak hal.  

Belajar mengembangkan aplikasi atau game dengan kurikulum yang telah divalidasi langsung oleh industri dengan Dicoding Academy.

Belajar di Dicoding Sekarang →
Share this:

Editor @ Dicoding

3 comments, add yours.

Rozani

So sweet… inspiring

Budhi

Barakallahu fiikum untuk Intan dan mas Narenda. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan barokah Nya kepada kalian.

Abdurrokhman

masya Allah, semoga akan banyak ibu seperti bu kinanti kedepannya.

Leave a comment