Kenali Passion sedari Dini: Catatan Seorang Developer Android

“Perempuan dan laki-laki punya kesempatan sama untuk maju. Yang penting, kenali passion sedari dini,” tegas Jessica Nathania, developer asal Bandung. Prinsip hidup ini membantu Jen meraih beasiswa MADE, lulus dari jurusan pilihan, dan kini memulai karir engineer-nya. Simak cerita Jen berikut ini.

Suka Dunia Komputer Sejak SMP

Sedari SMP Jen -begitu sapaannya- kerap memandang kagum sang kakak yang kala itu sudah aktif belajar programming. Ia kerap bergumam dalam hati kalau ia ingin seperti abangnya yang pandai. Bibit-bibit ketertarikan pada dunia programming pun bersemai dalam dirinya saat mengerjakan program kecil dengan Visual Basic di SMP. Ditambah guru yang menyenangkan, Jen jadi asyik menggarap tugas hingga tuntas. “Padahal simpel banget, cuma munculin gambar. Tapi itu melepas penat dari mata pelajaran lainnya. Liat komputer, jadi seger,” kenangnya sambil tersenyum.

Jen pun mulai belajar otodidak tentang programming dan logika. “Tapi biasa, namanya juga bocah, suka males hehehe, tawanya. Perlahan ia menemukan “AHA moment” yang kian kuat dalam pencarian bakat dan minatnya. “Dunia komputer ternyata keren!”, seru Jen kala itu.

Jatuh Cinta Pemrograman Android 

Tak heran, Teknik Informatika jadi pilihan jurusannya saat lanjut ke jenjang pendidikan S1 di Institut Teknologi Harapan Bangsa, Bandung. “Penting untuk cinta sama apa yang kita lakuin,” ungkapnya saat mendeskripsikan empat tahunnya di almamater.

Memangnya cinta apaan sih Jen ?

Ia mengaku jatuh cinta sama dunia pemrograman Android, terutama di tahun keempatnya kuliah. Ia mengaku proses menjadi developer “Sangat menantang.” Sumber belajarnya, bermacam-macam. Selain dari materi kuliah, Jen juga belajar dari portal akademi online, salah satu sumber utamanya dalam belajar. Awalnya, ia mengambil beberapa materi dasar dalam bahasa pemrograman yang berbeda-beda di beberapa platform kondang berbahasa Inggris. Pada akhirnya, Jen memutuskan untuk mendalami Android. 

Aktif Belajar Android di Dicoding sampai Dapat Beasiswa 

Belakangan, gadis cekatan ini mengenal Dicoding lewat workshop tentang game development yang mendatangkan pembicara kami. Ia pun mulai berselancar di platform Dicoding dan mempelajari apa saja kursus online yang tersedia di Academy. Member sejak medio 2016 ini pun menjatuhkan pilihannya pada kelas Belajar Membangun Aplikasi Android Native.

Kenapa ambil kelas itu? “Masih murah,” ujarnya menyeringai polos. Faktor lain adalah kelas yang kecil, materinya pemula dan sedikit. Dari situ Jen mengerti tentang cara kerja platform Dicoding hingga melirik versi trial kelas-kelas lainnya.  

Jen aktif hadir di Events dan merampungkan dua kelas lainnya dengan baik, yakni  Belajar Membangun LINE Chatbot dan Belajar Membuat Aplikasi Android untuk Pemula.

Ketekunan Jen berbuah manis! Pada Januari 2018 kami mempercayakannya beasiswa kelas Menjadi Android Developer Expert. Insentif ini kami berikan pada member-member pilihan, termasuk Jen.

“Heboh, ambil kelas MADE bareng ngerjain Tugas Akhir,” pikirnya melayang setahun kemarin. Meski sulit mengatur waktu, Jen mengaku bisa membuat skala prioritas dalam setiap tahapan pengumpulan TA dan submission kelas. Bahagianya saat sertifikat kelulusan kelas MADE dan ijazah S1, ada di tangan.

Saat lulus Sarjana Teknik Informatika dari ITHB

Menurut veteran asdos di ITHB ini, materi MADE lumayan luas, banyak, detail, dan membuatnya jadi tahu semua fungsi dalam Android. Ia menambahkan “Teori dasarnya diajarkan dengan baik, walau ada teknologi yang sudah lewat.. Saya jadi punya gambaran hal apa aja yg ada di Android.” Agar pengetahuan yang didapat makin mantap, menurutnya peserta harus menggali materi lebih dalam lagi dari sumber-sumber lainnya.  

Pada kami, ia juga memberi saran agar memperbarui tools dan penjelasan seputar materi yang bahasanya terlampau baku alias sulit dimengerti, baik dalam bentuk tulisan maupun lisan.  Lewat penyampaian yang sederhana, peserta kelas jadi paham materi yang njelimet, imbuhnya.

Untuk reviewer, ia berpesan “Lebih aktif lagi dong buat kasih saran-saran teknologi terkini yang lebih dibutuhkan di dunia kerja. Tentu kita sebagai developer juga mau tau.” Siap, Jen!

Termasuk salah seorang member aktif Dicoding, kami mengundang Jen pada acara Bekraf Developer Conference di Bandung, Desember lalu

Girl Developers Support Each Other 

Sejak kelas pertamanya, Jen giat mempromosikan Dicoding Academy pada teman-temannya, apalagi teman-teman perempuan. “Saya suka sharing inspirasi ke sesama developer, terutama yang cewek, biar ada temen belajar juga” ujarnya.

Kenapa banyak merekomendasikan Dicoding? Apa bedanya  antara kelas online global dengan Dicoding Academy? Kami pun penasaran.

Gadis 22 tahun ini bertutur “Seneng aja bisa ikutan kelas online yang dibikin sama developer Indonesia. Bangga! Kelasnya juga dalam bahasa Indonesia. Lebih dimengerti”

Wow, terima kasih Jen!

Selepas kuliah, ia diterima probation sebagai Full Stack Android Developer di Cermati, sebuah fintech yang bermarkas di Jakarta.

Jen (ketiga dari kanan) bersama rekan-rekan kerjanya di Cermati

Di tahap seleksi saingannya cukup banyak. Ia merasa bersyukur atas lingkungan kerja yang menyenangkan. Di sana ia bisa mengembangkan fokusnya dalam hal Android. Saat ini Jen tengah mengembangkan aplikasi Android untuk user eksternal perusahaan. Ia pun senang karena ia menemukan beberapa developer perempuan sepertinya di kantor.

Optimisme tentang Perempuan di Dunia Programming

“Perempuan dan laki-laki punya kesempatan sama untuk maju. Yang penting, kenali passion sedari dini,” ungkapnya lugas. Ia bahagia orang tuanya memberi kebebasan padanya dalam memilih jalan minat dan bakat. Jadi ia bisa mengikuti kata hatinya untuk belajar programming sejak SMP dan tentunya bertanggung jawab pada pilihannya itu.  “Kalau kita emang suka sama suatu bidang, tekuni aja. Kalau bisa, lebih awal lebih baik. Jadi skill kita lebih advanced,” ucapnya.

Muda, optimis, dan percaya kesetaraan gender, Jen merasa dirinya tiada beda dengan rekan kerjanya yang mayoritas pria. “Terkadang dasarnya saya itu, perlu lebih banyak belajar dibanding yang lain. Nggak apa apa. Emang saya tipe orangnya mungkin kaya begini. Bukan karena saya perempuan loh ya. Oh ya, saya juga suka belajar dari orang lain yang lebih unggul, yang lebih duluan belajar ketimbang saya.”

Titian jalannya sudah jelas. Passion-nya, apalagi: pengembangan Android. Kini ia masih menyimpan harapan mewujudkan proyek bikin aplikasi bersama teman-teman sekampusnya dulu. Juga meluangkan waktunya untuk mendalami keahlian berbahasa Jepang yang belum kesampaian. “Apalagi kalau bisa sampai kuliah di Jepang, Kak..” tuturnya penuh harap.

Ingin sekolah di Jepang karena suka dengan budaya Jepang. Jen (tengah) saat bersama teman-temannya Japanese Culture Community, Unit Kegiatan Mahasiswa di kampusnya

Ia pun menutup pembicaraan kami dengan pesan “Untuk developer yang ingin fokus Android, Dicoding Academy pilihan tepat. Relevan dengan dunia kerja dan membantu kita mengerti dasar istilah-istilah teknologi yang biasanya diajarkan dalam bahasa asing.”  

Belajar mengembangkan aplikasi atau game dengan kurikulum yang telah divalidasi langsung oleh industri dengan Dicoding Academy.

Belajar di Dicoding Sekarang →
Share this:

Editor @ Dicoding

Leave a comment