Junia Firdaus: dulu Loper Koran kini Android Engineer

Kalian merasa hidup kalian berat? Gali lubang, tutup lubang. Keuangan kembang kempis. Mengais rezeki tapi “nggak ngumpul-ngumpul?” Hidup penuh tantangan, memang. Tapi jangan menangisi nasib. Teman tangguh kita, Junia Firdaus (25 thn, Android Engineer, Bekasi), akan ceritain kenapa. Lewat jalan hidupnya yang cadas berbatu.

Mencari Uang Sejak Kelas 3 SD

Junia kecil tak kenal video games atau internet. Sejak ditinggal pergi sang ayah saat berusia 9 tahun, ia mulai bekerja menyambung hidup. Pekerjaan pertamanya sewaktu kelas 6 SD: loper koran. Sehari-hari mengasong surat kabar di perumahan kota Bekasi. Ia mengaku “tak takut.” Ia lebih takut kalau pulang tak bawa duit. Duit untuk bayar sekolah. Duit untuk Ibu di rumah.

Menginjak usia remaja, Junia beralih pekerjaaan. ia bekerja di bengkel sebagai asisten mekanik. Pagi sekolah, siang bekerja, malam kerjakan PR. Sisa uang dari upah harian, ia tabung untuk persiapan sekolah berikutnya. Ia tak ingin mentok lulus SMP atau SMK saja. Tekadnya bulat: “Saya harus kuliah.”

Beberapa tahun berselang langkahnya terhenti di STMIK Mercusuar, Bekasi. Ia PD mendaftar setelah menggenggam Tunjangan Hari Raya (THR) dari tempat kerjanya saat itu, sebuah restoran waralaba.

Petugas penerimaan mahasiswa baru bertanya “Kamu pilih jurusan apa?” Bingung menjawab, temannya nyeletuk “udah SI (Sistem Informasi) aja. TI (Teknik Informatika) mah, lo nggak akan sanggup.” Mengiyakan, Junia pun mengikuti kelas karyawan yang perkuliahannya di malam hari.  

Motivasi Terbesar dalam Hidup

Di kampus ia memulai petualangan baru sebagai programmer. Saat mengenal dunia software ia sempat berpikir “gimana cara buatnya ya?” Karenanya, saat dosen mengajarkan materi “VB.net” ia selalu antusias duduk paling depan.

Mulanya ia belajar desktop dan web. “Tapi masih belum puas. Pengennya aplikasi,” akunya. Ia pun belajar otodidak dari internet. Junia pun menemukan web Dicoding di tahun 2016. Ia mendaftar sebagai member dan menelusuri Dicoding Academy. Hatinya tertambat pada kelas Menjadi Android Developer Expert (MADE). Nilai kelas ini 2,200 Dicoding Points atau setara Rp 2,2 juta. Sampai di titik ini Junia tahu. Ia harus realistis. Uangnya tiris.

Uang ada. Tapi jumlahnya ngepas untuk keperluan hidup sehari-hari. Dari mata pencariannya di di dapur dan bersih-bersih restoran siap saji,  gaji bulanan awalnya Rp 1,2 juta. Jika bekerja hingga malam, ia juga dapat ekstra berupa “uang closing.” Jumlahnya Rp 8 ribu per hari

Untuk menambah pemasukan, ia melamar sebagai mitra GO-JEK. Bermodalkan motor yang baru lunas cicilannya, ia berkeliling mengantar penumpang atau makanan ke daerah Bekasi dan sekitarnya.

Seperti apa jadwal hariannya? Padat. Tapi itu semua ia lakukan dengan semangat. Saat lelah dan down, motivasinya selalu Hadits Rasulullah saw yang berbunyi “Aku bagaimana dengan prasangka hamba-Ku.” Jika hari ini nafkahnya belum cukup, Junia tetap yakin sang Maha Pemurah memberi rezeki lewat nikmat yang lain, bukan uang semata.    

Motivasi lainnya adalah ibu dan sang istri, teman SMA yang dinikahinya sejak semester 7. Mereka menyewa sebuah rumah kontrakan mungil di Bekasi. Istrinya selalu mendukung. Tak lama setelah menikah, awal 2017 lalu mereka bahagia menantikan kelahiran anak pertama.

Pengakuan Jujur yang Berujung Beasiswa MADE

Sadar akan prioritas dan keuangannya, Junia realistis. Sesaat setelah mendapat info pembukaan pendaftaran kelas MADE dari Narenda Wicaksono (CEO Dicoding), ia hanya membalas salam dan berterima kasih. Juga melampirkan screenshoot saldo GO-PAY-nya yang lagi tiris-tirisnya.

Karena pengakuannya itu,  awal 2018 seorang donatur berbaik hati memberikan Junia beasiswa kelas MADE. Ia mengaku sangat bahagia dan mendoakan “Semoga Allah membalas kebaikan beribu-ribu kali lipat,” ucapnya bersyukur.

Saking semangat, Junia langsung me-redeem token sesaat setelah memperolehnya. “Saya gak mau ngecewain orang yang sudah baik dengan saya,” tulisnya waktu itu. 

Anak sulung dari dua bersaudara ini memang tak kenal lelah.  Selepas subuh, narik. Pagi hingga sore bekerja di restoran. “Bersih-bersih dan di dapur, Mbak.  Kebanyakan ya berdiri,” jelasnya. Malamnya ia kuliah, lanjut mengerjakan skripsi. Ditambah lagi menyelesaikan kelas MADE. Serta memberi dukungan terbaik untuk istrinya yang sedang hamil. All at once.

Meski lelah, ia gigih dalam memahami materi dan mengerjakan setiap submission. Saat bertemu kesulitan, ia selalu mengandalkan Google untuk mendapat jawaban. Atau forum diskusi, jika tanda tanya tetap tak terpecahkan.

Dalam waktu 86 hari ia berhasil lulus. Keren kan?

Tak lama berselang ia pun berhasil lulus sidang skripsi tepat waktu. Predikatnya sangat baik. Tugas akhir Junia merupakan skrips perdana di kampusnya yang menggunakan platform Android. Judulnya “Deteksi Tulisan Tangan Menggunakan Artificial Intelligence” mengundang decak kagum dosen penguji.

Junia (kedua dari kanan) bersama para sahabat saat wisuda kelulusan

Paling bahagianya lagi, tak lama setelahnya, bayinya lahir. “Bahagia lahir batin,” ujarnya tersenyum lebar.

Sertifikat MADE di Dunia Kerja: Diakui

Seusai lulus, ia mantap ingin beralih kerja ke bidang kerja yang ia pelajari selama ini: programmer. Junia melamar jadi Android Engineer di 10 lowongan kerja di portal pencari kerja. Di CV-nya ia mencantumkan sertifikasi kelas MADE yang ia peroleh.

“Dari 10 yang saya lamar, semua kepanggil interview. Terakhir saya diwawancara oleh Lintas Media Danawa, anak perusahaan Indosat dan Lintas Arta. Dua (2) hari setelah masukin CV, pemimpin umum dan manajernya interview saya. Dia tau saya lulusan Dicoding. Dia tertarik pas saya bilang saya belajar design pattern dan pengolahan data API di kelas MADE. Kayanya ituyang mereka cari,” ceritanya ceplas-ceplos.

Respon sang  manajer setelahnya, cukup mengagetkan. “Kamu jangan pulang dulu. Ayo kita ke HR. Langsung nego gaji.”

Sontak pemuda ramah ini, langsung mengiyakan. “Alhamdulillah banget. Nggak nyangka,” ujarnya. Ia mulai bekerja tepat sebulan pasca lulus.   

Setelah mencicip pekerjaan pertama sebagai Android Engineer, seperti apa sih relevansi ilmu-skill dari Dicoding Academy bagi pekerjaannya?

“Di MADE ada metode script, thread, handler, asynctask. Menurut saya, semua yang dibutuhkan industri, ada di Dicoding. Bisa diaplikasikan dalam pekerjaaan. Contohnya nih ya, notifikasi, mengambil data dari API, design pattern, unit testing, local database Sqlite. Banyak banget yang bisa diaplikasikan.”

Terpilih Peserta GDK 2018 “Kotlin on Android”   

Junia mengaku “ketagihan” belajar pemrograman Android.  Alhasil, ia mendaftar seleksi peserta Google Developer Kejar 2018 “Kotlin on Android.” Setiap ada kesulitan, ia mengandalkan web search engine, baru forum diskusi dan stackoverflow. Fasilitatornya, Umar Basri, pun sangat membantu. “Bukan cuma soal kelas Kotlin Android Developer Expert, tapi juga proyek di kantor,” ucapnya senang.

“Dengan Google Developer Kejar ini, saya jadi nambah temen, nambah kenalan dan pengetahuan. Di sini kami (peserta) saling bantu.”   

Junia (ketiga dari kiri) dalam sebuah kegiatan temu peserta dan fasilitator GDK 2018 “Kotlin on Android”

Masih narik ojek, kerja full time,  menyelesaikan kelas KADE, dan ngurus bayi baru lahir, Junia mengaku “Saya punya mimpi mewujudkan hidup yang lebih baik buat keluarga. Saya pengen berangkatin Ibu saya ke Tanah Suci. Selain itu, pastinya bikin startup di bidang jasa.”

Pesannya buat para programmer yang lain “Jadi programmer pelajari satu bahasa saja dulu. Belajar step by step dari yang paling mudah. Jika ada kesulitan tinggal googling. Bila mentok baru tanya ke forum”

Terima kasih Junia. Senang belajar dari sosok tangguh sepertimu!

Belajar mengembangkan aplikasi atau game dengan kurikulum yang telah divalidasi langsung oleh industri dengan Dicoding Academy.

Belajar di Dicoding Sekarang →
Share this:

Editor @ Dicoding

6 comments, add yours.

Jeko

Luar biasa.. inspiratif banget

Aulia muzaki

Mantab ini calon startup indonesia setelah nadim

dede supriadi

luar biasa biar jadi motivasi

Budhi S.

Masya Allah, manteb baca perjuangannya Junia. Senang bila dicoding bisa sering-sering sharing cerita seperti ini, memacu semangat untuk belajar terus.

Cevi Gunaevi

Sangat Inspiratif, semoga ini menjadi “cambuk” untuk membakar semangat saya agar berilmu, bertekad, dan berkarya…. Salam Sukses juga buat mas Junia…

Feliks Lourensius

Gila, ini orang semangat
badannya terbuat dari baja kali yah, tapi bener dukungan orang tua, apalagi pasangan kita akan membuat kita lebih semangat lagi, dan jangan lupa untuk doa 🙂

Leave a comment