Erma Susanti: Dosen yang Giat Mengembangkan Diri demi Anak Didik

Erma Susanti: Dosen yang Giat Mengembangkan Diri demi Anak Didik- 

Sosoknya cekatan namun wajahnya teduh menenangkan. Sudah 6 tahun Ibu dosen Erma Susanti mengasuh banyak mata kuliah pemrograman. Dari riset hingga pengabdian masyarakat,  jadwalnya padat. Meski sibuk, beliau giat mengembangkan diri demi menularkan ilmu pada anak didiknya.

Bagaimana ceritanya hingga beliau terpilih sebagai salah seorang penerima 1,000 Beasiswa Google? Apa yang bisa kita pelajari dari kisah beliau? Simak berikut ini.

Motivasi Anak Didik agar Suka Ngoding

Malang melintang mengajar 13 mata kuliah sejak 2012, perempuan tangguh ini punya satu prinsip. “Yang paling penting sih, mahasiswa jaman now harus selalu dimotivasi biar suka ngoding.” Bagaimana caranya?

  • Menciptakan suasana menyenangkan di kelas itu, perlu!

Dengan suasana yang fun, para mahasiswa jadi lebih mudah memahami.

  • Menyajikan materi yang update

IT merupakan salah satu bidang yang berkembang cepat dan pesat. Mau tak mau dosen harus mengembangkan diri.

  • Meluangkan waktu ekstra untuk berdiskusi dengan mahasiswa.  

Saat jam kuliah usai Ibu Erma tak lekas beranjak meninggalkan kelas. Justru pada waktu ekstra seperti ini banyak mahasiswa S1 dan D3-nya yang datang bertanya-tanya tentang materi. Durasi kelas yang singkat tak memungkinkan dosen tetap prodi Teknik Informatika ini untuk menyampaikan materi sedetail mungkin.

Dosen Harus Gemar Mengembangkan Diri

Ibu Erma menempuh jenjang S1 di Teknik Informatika IST  AKPRIND dan S2 di Ilmu Komputer UGM.

Matanya berbinar-binar saat bicara tentang passion-nya mengembangkan diri. She falls for it. Mengapa? Tak lain agar bisa menularkan ilmu baru ke anak-anak didiknya.

Saat ini di almamaternya, Institut Sains & Teknologi (IST) AKPRIND Yogyakarta, beliau mengampu/mengajar mata kuliah Pemrograman Mobile, Keamanan Sistem Komputer, Pemrograman Berorientasi Objek, dan Pemrograman Web.

Itulah mengapa pengembangan diri di bidang pemrograman, sangat bermanfaat baginya mengajar. Ibu Erma aktif mencari kesempatan untuk ikut pelatihan, atau tepatnya sertifikasi keahlian. Sebutlah Kompeten Programmer, BNSP (2017); Menjadi Android Developer Expert (MADE), Dicoding (2018); dan Kotlin Android Developer Expert, Dicoding (2018), dan Membangun Progressive Web Apps. Semuanya ia tuntaskan dengan baik.

See? Kita pun bisa sedikit-sedikit meraih apa yang kita inginkan kalau kita sungguh-sungguh menginginkannya.

Kesempatan Mengembangkan Diri, Ada di Dicoding

Perkenalannya dengan Dicoding tahun 2017 membuka pintu-pintu kesempatan pengembangan diri. Ia mengaku kenal Dicoding saat tidak sengaja browsing tentang materi pemrograman Android berbahasa Indonesia. Awalnya ia mengikuti kelas-kelas tak berbayar dari beberapa akademi yang tersedia online, termasuk Dicoding.

Gayung pun bersambut. Beliau kian antusias saat berkesempatan ikut Google Faculty Training 2017. Program pelatihan bertema Android Developer Fundamental ini dibawakan oleh Dicoding Engineer dan ditujukan bagi para dosen pengajar mata kuliah Pemrograman Mobile.

Tak sampai di situ, tahun 2018 ia menjajal program pengembangan diri dari Google berikutnya, yakni seleksi 1,000 beasiswa untuk dosen dan mahasiswa yang bekerjasama dengan Dicoding.  Ia pun terpilih. “Pas banget timing-nya. Saat lagi perlu upgrade ilmu Android, ada beasiswa kelas MADE ini oleh Dicoding. Alhamdulillah.” Kini sertifikat lulusan MADE pun sudah di tangan.

Tak hanya di kelas MADE, Ibu Erma lanjut menyelesaikan kelas Kotlin Android Developer Expert (KADE) dan Membangun Progressive Web Apps (MPWA).

Manfaatnya buat Anak Didik

Sebelum ikut kelas MADE dan KADE, beliau mengaku cukup kesulitan mencari materi Android yang sesuai dengan kebutuhan industri.  Bagaimana kini?

“Kini dengan kelas MADE KADE, dan MPWA dari Dicoding saya terbantu dalam pengayaan materi mata kuliah Pemrograman Mobile. Ulasan materi yang jelas dan contoh-contoh codelab yang ada sangat membantu saya dalam memperkaya materi dan contoh-contoh studi kasus aplikasi sesuai pokok bahasan untuk mengajar. Ini tentu meningkatkan kepercayaan diri dan performa saya dalam mengajar mata kuliah Pemrograman Mobile.”

Ibu Erma mengaku respon mahasiswanya sangat baik dan semakin antusias untuk belajar. Terutama untuk mereka yang memang berminat ke pengembangan aplikasi Mobile.

Di akhir kuliah Pemrograman Mobile semester ganjil 2018/2019 kemarin, beliau juga sempat mengadakan acara Showcase untuk Project Akhir Pemrograman Mobile. Di dalam tim, para mahasiswa mengerjakan proyek Android untuk dipresentasikan. Meski aplikasinya masih sederhana, Ibu Erma mengaku bangga. Proyek-proyek yang mereka buat, cukup menarik. Ada aplikasi make up artist online, jual beli tanaman, aplikasi sampah masyarakat, laundry online, aplikasi cari kos, aplikasi simaksi pendaki gunung, aplikasi voting pemilihan ketua himpunan, dan masih banyak lagi.

Untuk mata kuliah Pemrograman Mobile sendiri di IST AKPRIND, beliau memang lebih banyak mengadopsi dari kelas MADE. Pasalnya karena masih menggunakan bahasa pemrograman Java.

Untuk meningkatkan skill mahasiswa pula, selain pada jam kuliah, beliau biasanya membuat acara free course on friday. Ini ditujukan untuk mahasiswa yang sulit memahami materi dan untuk mahasiswa yang berminat ke pengembangan aplikasi mobile. Selain pengembangan aplikasi mobile Android menggunakan Java, ia juga menyisipkan materi Kotlin dan PWA. Mahasiswa cukup antusias. Banyak yang ikut acara ini.

Selain itu, Ibu Erma membimbing mahasiswa komunitas DSC (Developer Student Club) untuk membuat kegiatan-kegiatan semacam Kejar (Kelompok Belajar) lokal di kampus IST AKPRIND. Materi yang digunakan untuk belajar DSC juga diadopsi dari materi Dicoding. Beberapa anak DSC juga dapat beasiswa MADE juga, jadi mereka manfaatkan materinya untuk pelatihan. “Katanya sih, materinya mudah dipahami. ” ujarnya.

Terima kasih Ibu, sudah berbagi.

Erma Susanti: Dosen yang Giat Mengembangkan Diri demi Anak Didik- end

 

Mau belajar programming seperti Ibu Erma? Manfaatkan promo 21 % Off yang berlaku hingga 30 April 2019.  Klik https://dicoding.id/androidkartini

Simak cerita lainnya dari lulusan KADE berikut ini: 

Pemuda SMK 17 tahun Lulusan Kelas MADE – KADE dan Mimpinya  https://blog.dicoding.com/pemuda-17-tahun-lulusan-made-kade/

Developer Lulusan Tercepat kelas Kotlin ini Ternyata… https://blog.dicoding.com/lulusan-tercepat-kelas-kade-ini-ternyata/ 

Belajar mengembangkan aplikasi atau game dengan kurikulum yang telah divalidasi langsung oleh industri dengan Dicoding Academy.

Belajar di Dicoding Sekarang →
Share this:

Editor @ Dicoding

Leave a comment