Ela Nopita: Developer yang Siangnya Ngoding, Malamnya Memanah, Weekendnya Masak

Hey wake up! Profesi developer tak melulu identik dengan laki-laki.

Tahukah kamu, programmer komputer pertama di dunia itu, seorang perempuan? Yup, betul! Dialah Ada Lovelace, matematikawan asal Inggris abad ke-18 silam. Kini di Silicon Valley pun sepertiga talenta teknologinya, juga perempuan. Di Google, jumlahnya 17 %.

Bagaimana dengan Srikandi Developer Indonesia?

Tahun 2017 Indonesia duduk di urutan ke-10 negara dengan porsi developer perempuan terbanyak menurut survei HackerRank. Rasio jumlah developer perempuan vs laki-laki konon sebesar 9 : 91. Tidak begitu berimbang, memang. Tapi di Indonesia mulai bersemai pula komunitas developer perempuan seperti FemaleGeek PHP dan FemaleDev. See, not bad right ?!

Di Dicoding lebih dari 4,600 member kami di seluruh Indonesia adalah perempuan!

Salah satunya adalah Baiq Ela Nopita Lestari, developer berusia 23 tahun asal kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Gadis pesantren ini lulus kelas Menjadi Android Developer Expert (MADE) awal tahun 2018. Mendapatkan kelas MADE lewat beasiswa subsidi, Ela merasa bersyukur. Ia bisa tekun menggarap hobi ngodingnya.

Apa sih yang unik dari kisahnya sebagai developer perempuan ? Kita simak kisahnya yuk.

Ngoding dari Kaca Mata Perempuan

Kenapa Ela suka ngoding? Begitu pertanyaan pembuka kami. 

“Desain-desain UI itu nggemesin kan. Lucu-lucu. Seneng deh, pas bikin desain itu jadi aplikasi beneran,” ujar Ela.

Ela juga mengaku sangat tertantang saat berburu eror dan problem solving kala ngoding. Susah memang, katanya. Tapi sepadan dengan rasa puas saat ketemu “Aha moment” dan solusi erornya.

“Apalagi saat tau aplikasi yang kita buat dipakai dan bermanfaat untuk orang banyak. Bahagia,” tuturnya.

Yang unik, Ela pertama kali menyentuh laptop ketika kuliah di STMIK Bumigora, jurusan Teknik Informasi. Ia lahir dari ayah dan ibu petani. Masa kecilnya ia habiskan di desa. “Makanya, saya nggak pernah kebayang jadi seorang developer. Dulu, tau aja nggak,” akunya polos.

Kini dengan kesehariannya di depan laptop, orang tua kerap bertanya “Kamu ini kerja apa sih?”  

Tapi lama kelamaan ayah dan ibu mendukung apa yang Ela kerjakan. Kuncinya: komunikasi. Ini hal yang perempuan jago banget kan? Ia hanya perlu menjelaskan apa misi yang sedang ia kerjakan.

Perempuan Suka Fleksibilitas

Saat ini Ela bekerja di ITEC, sebuah pusat pelatihan, sertifikasi profesi IT, dan software house di Mataram. Di antara 15 orang personil di kantor, hanya ia dan seorang lagi yang perempuan. Ia kebagian jobdesk ngoding proyek Android, fokusnya saat ini.  

Berbeda dengan rekan pria sejawat, Ela memilih freelance. “Sukanya tu, bisa kerja dari rumah. Jam kerja fleksibel. Jadi bisa pergi liburan pas orang lain kerja,” ujarnya.  Sehari-harinya seperti developer pada umumnya, Ela menghabiskan banyak waktu di depan laptop.

Pemburu tutorial resep di youtube ini bilang “Perempuan suka fleksibilitas.”

Kenalannya, seorang teman developer perempuan, beda-beda tipis dengannya. Ela masih single, sementara temannya sudah menikah. Bekerja sebagai programmer memungkinkan sang ibu muda bekerja dari rumah dan mengurus rumah tangga serta anak yang masih kecil-kecil. “See ? So I can do it too!” ujarnya mantap.

 Dengan fleksibilitas, Ela memang bisa mengatur waktunya sesuka hati.

Siang hari waktunya habis untuk ngoding. Sesekali di siang dan malam hari, ia bertemu dengan teman-teman klub memanah. “Selain ngoding, hobi saya itu memanah loh,” katanya dengan mata berbinar-binar. Saat weekend ia mempraktikkan resep koleksinya dari youtube. Salah satu resep kesukaan yang paling sering ia praktikkan itu: capcay!  Hmm…sama ayam goreng mentega nggak sekalian, Ela? *duh, tulisan apa ini* 

Hayo, pernahkah ketemu programmer perempuan dengan 3 skill sekaligus: ngoding, masak, memanah? Siap-siap hatimu dipanah sama Ela 😀 Tapi maaf jomblowers, ia sebentar lagi naik pelaminan..Hiks

Tentang Stress dan Susahnya Cari Teman Curhat

Ela mengaku, sebagai developer perempuan yang bekerja di dunia mayoritas pria, kehadirannya di tengah lautan lelaki, sangatlah mencolok alias beda sendiri.

“People often expect something more from me,” curhatnya.

Karena itu, ia menggebu-gebu upgrade ilmunya supaya lebih PD lagi.  Ela pun semangat memaparkan keinginannya membangun komunitas developer perempuan di Lombok. “Karena kesepian, gak ada temen curhat kodingan :’D,” ujarnya memelas.

Ia merasa lebih nyaman bercerita keluh kesah code error kepada sesama perempuan. Sayangnya, susah sekali cari teman curhat programmer perempuan di Mataram, keluhnya.  

Selain tiada teman curhat dan stres sesekali, Ela juga kerap dibuat kewalahan oleh siklus kewanitaan. Paling repot kalau suasana hati berubah-ubah. “PMS (alias Premenstrual Syndrome) bikin moody. Males ngoding,” katanya sambil terkekeh.

Di Dicoding Belajar Materi Android dengan Detail     

Ela mengenal Dicoding dari teman-temannya yang sering share di facebook. Saat itu ia tengah mencari bahan belajar Android. “Nah di Dicoding ada kursus gratis ya kan.. Saya pelajari materinya. Ternyata enak, detail, dan ada tugas-tugas yang bisa di-review sama Dicoding,” ungkapnya.

Ia menambahkan dengan proses review tersebut, ia jadi mengerti letak kesalahan saat coding. “Eh di setiap akhir kelas ada poinnya. Lumayan bisa ditukar dengan reward atau kelas berbayar,” katanya semangat.

Kini Ela sudah lulus dari 5 (lima) kelas di Dicoding Academy. Salah satu yang paling berkesan buatnya adalah kelas Menjadi Android Developer Expert.  

First impression itu, detail. Semua materi dibahas dari dasar-dasar dan menyeluruh. Ada buku dan latihan-latihan berikut video tutorial. “Paket lengkap buat belajar!” serunya.

Masukannya buat kami, ia ingin materi Android yang level expert-nya, ditambah.  OK SIAP, Ela!

Sentuhan tangan perempuan di jagat programming, jangan dilirik sebelah mata.

Perempuan senang bekerja dalam tim.
Perempuan bisa mengerahkah seluruh kemampuan saat coding.
P
erempuan juga gigih memburu code error sampai momen Eureka.

Dari cerita Ela, kita juga mengerti bahwa perempuan itu multi-tasker sejati. Ia tak minta diistimewakan. Ia hanya minta satu hal: teman curhat.

Mungkin kamu berminat membantu? Eh tapi, female dev loh ya. Girls please sign up. But boys, sorry.. 

Source:
https://blog.hackerrank.com/which-countries-have-the-most-skilled-female-developers/
https://www.biography.com/people/ada-lovelace-20825323

Belajar mengembangkan aplikasi atau game dengan kurikulum yang telah divalidasi langsung oleh industri dengan Dicoding Academy.

Belajar di Dicoding Sekarang →
Share this:

Editor @ Dicoding

4 comments, add yours.

Cahyana A

Untuk Coder Ela :
Selamat ya atas pilihannya untuk menjadi Coder melalui Dicoding Academy , Smoga menghasilkan karya utk kemaslahatan
Aamiin

Sa

Revisi dong, untuk nama FemaleGeek dalam penulisanya digabung ya min, bukan dipisah. Terima kasih.

    Mutiara Arumsari

    Author

    Baik Kak. Terima kasih sarannya ya

Arian Saputra

Saya sangat terinspirasi 😀

Leave a comment