Danviero Yuzwan: Seorang Reviewer yang Tumbuh Bersama Dicoding

Seperti biasa pagi itu Danviero Yuzwan (24 tahun) sibuk meneliti baris kode di layar. Sesekali ia melihat jam tangannya. Setengah jam lagi ia harus berangkat ke kantor. Peran sebagai part-time Reviewer di Dicoding dan full time Engineer di LOKET (bagian dari GO-JEK group) ia lakoni. “Memang sibuk, tapi saya bisa bagi waktu,” ujarnya mantap. Tepatnya, Yuzwan bukan hanya “bisa.” Ia “lihai” mengatur waktu.

Manajemen Waktu itu Nomor satu

Yuzwan termasuk reviewer pionir. Sejak 2016 ia mulai membantu me-review kelas reguler kami kala itu, Kelas Belajar Menjadi Android Pemula. Kini Yuzwan fokus pada submission peserta Kelas Android Developer Expert (KADE). Ia melakukannya sambil bekerja plus menyelesaikan kelas-kelas Dicoding Academy dan mengikuti berbagai Dicoding Challenge.

Mengawali dan mengakhiri hari dengan…mereview submission peserta kelas KADE!

Penasaran seperti apa pemuda asal Jakarta Barat ini mengatur waktunya?

  • Konsisten meluangkan waktu  

Setiap hari ia mendedikasikan dua waktu tertentu untuk me-review.  

Yang pertama, sebelum berangkat kerja minimal 1 (satu) jam.Dalam sejam ia bisa menyelesaikan review 2 peserta. 

Yang kedua, selepas bekerja, sebelum beristirahat. Ia bisa menuntaskan 3 review dalam waktu 1.5 jam. 

Di akhir pekan pun targetnya sama, yakni 5 review per hari.  

  • Jeli memilah prioritas

Beban pekerjaan di kantornya terkadang banyak, terkadang sedikit. Demikian halnya dengan beban review. Yuzwan akan memilah mana yang menjadi prioritas pada hari itu dan menjalankannya.

Jika hari ia fokus pada pekerjaan kantor, maka esok prioritasnya adalah “bayar hutang” mengerjakan review. Begitu pun sebaliknya. “Tidak pernah tidak,” ujarnya.

Member Dicoding yang Berprestasi

Tim Dicoding Academy sangat terbantu dengan keaktifan Yuzwan. “Giat sekali,” ujar Nur Rohman, Android Engineer kami penanggung jawab kelas KADE yang kerja bareng dengannya.

Bukan tanpa alasan kami mempercayakan tugas review pada Yuzwan. Member Dicoding ini sangat aktif di tiap kegiatan Dicoding. Dalam dua tahun terakhir ia memenangkan 5 Challenge dan menuntaskan 10 kelas Academy. Saat ditanya apa motivasinya, lulusan Teknik Elektro Universitas Sultan Ageng Tirtayasa ini menjawab pendek “Saya suka tantangan!”

Pemenang Challenge: Aplikasi bertema gaya hidup

Aplikasi Wonit https://play.google.com/store/apps/details?id=com.izx.wonitapp memenangkan Challenge DBS Live More Society: Developer Challenge 2. Aplikasi ini berguna untuk menemukan tempat kuliner

Pemenang Challenge: Aplikasi bertema kesehatan

Melalui aplikasi Daycal https://play.google.com/store/apps/details?id=com.dev.izcax.diabeticnote Tahun 2017 lalu Yuzwan memenangkan Challenge Indonesia Next Apps 4.0 – Samsung SDK Challenge. Aplikasi ini berguna untuk mengontrol glukosa darah dan pembakaran kalori, untuk kemudian merekamnya dalam gawaimu.

Pemenang Challenge: Aplikasi bertema pendidikan

Aplikasi Betrik (Belajar Listrik) ini berguna untuk menyemangati kamu belajar kelistrikan. Isinya membantumu memahami soal-soal dasar kelistrikan. Terdapat penjelasan rumus singkat dan problem solving berbentuk visual. Aplikasi ini memenangkan Challenge Memenangkan Challenge “Indosat Ooredoo Wireless Innovation Contest.” Dapat diunduh di https://play.google.com/store/apps/details?id=com.dev.izcax.betrik

Akhir tahun 2017 selepas lulus kelas MADE, Yuzwan mencoba peluang baru. Ia melamar beasiswa magang dari GO-JEK dan Dicoding. Ia bersyukur bahwa kemudian ia diterima dan diberi kesempatan untuk mengikuti bootcamp selama 2 bulan di kota Bangalore, India. Di sana ia belajar materi lanjutan mengenai OOP, Dev Ops, dan Android. Ia pun kini semakin mantap menekuni pemrograman mobile berbasis Android. Selepas magang Yuzwan menapaki karir di LOKET.

Menjadi Fasilitator dalam Program Google Developer Kejar (GDK) 2018

Pemuda yang suka ngoding sejak tingkat 2 kuliah ini pun mendapat amanah baru. Ia dipercaya sebagai Fasilitator bagi peserta GDK. Melalui program ini ia ingin membimbing peserta agar mereka mendapatkan ilmu terupdate tentang Kotlin, bahasa masa depan Android.

Yuzwan (berkaos putih, berdiri di sisi kiri pria berbaju gelap )

Di acara Meetup untuk Fasilitator dan Peserta akhir pekan lalu ia membagikan dua tips “manajemen waktu untuk reviewer” di atas. Ia juga menyarankan sesama reviewer dan peserta untuk “fokus pada checklist.” Fokus itu penting. Jika submission tidak memenuhi kriteria, maka reviewer akan menolak kemudian peserta akan merevisinya. Proses ini tentu menghabiskan waktu.

Yuzwan (paling kiri) bersama para peserta GDK 2018 di amphitheatre GO-JEK

Dari pengalamannya, kita belajar tentang pentingnya menemukan aktivitas yang mendukung performa talenta kita. Ia merasa bahwa proses belajar dan aktif di Dicoding, khususnya dalam hal Android development, sangat membantu pekerjaan sehari-hari. “Kepake banget!” seru pria yang juga senang bermain badminton ini.

Selain sibuk mengembangkan diri, jangan lupa juga lakukan hobi kita. Ia mengaku di sela-sela penat menjalankan semua tugas, ia tetap meluangkan waktu bermain futsal, atau sesekali, badminton.

Tumbuh Bersama Dicoding

Melihat ke belakang, dulu ia mulai belajar pemrograman dengan C atau C++ di bangku kuliah. Ia mengambil kelas Android untuk Pemula 1. Eskalasi belajar meningkat seiring dengan keperluan untuk keep up dengan kebutuhan kantor. Ia pun mengambil kelas Menjadi Android Developer Expert dan KADE serta mengikuti banyak Challenge serta event Dicoding.

Testimonialnya mengenai kelas MADE

“Punya modul terbaik. Keunggulannya, bahasa pengantar yang digunakan, bahasa Indonesia. Materi favorit saya itu background service, notifikasi, testing, database dan content provider. Itu semua telah membantu saya meng-handle proyek kantor yang user-oriented. Dan jika peserta nemu kesulitan, ada diskusi kelas yang bisa membantu. Juga ada review kode. Developer jadi tahu kekurangannya di mana.”    

Awalnya peserta, kini ia didapuk sebagai reviewer dan fasilitator. Kami senang bisa membersamai seorang developer seperti Yuzwan.  

Dengan menjadi reviewer dan menang Challenge, Yuzwan menuai banyak Dicoding Points. Ia pun telah menukarkan Points tersebut dengan satu unit Macbook Pro. Wow!

Selain itu ia merasa bahwa melalui submission peserta, ia jadi tahu banyak variasi kode. Terkadang kode dari peserta, lebih baik dari kode seorang reviewer.     

Semangat menunaikan tugas, Yuzwan. Semoga semakin banyak developer yang tumbuh bersama Dicoding, sepertimu.  

Belajar mengembangkan aplikasi atau game dengan kurikulum yang telah divalidasi langsung oleh industri dengan Dicoding Academy.

Belajar di Dicoding Sekarang →
Share this:

Editor @ Dicoding

Leave a comment