Dicoding's Blog

Bersosialisasi melalui Permainan / Game Digital

Sebagai makhluk sosial, manusia hidup dalam lingkungan dan atau grup bersama individu lainnya. Setiap grup tentu berisi bermacam individu yang sangat bervariasi dari mulai usia, aktivitas, hobi, kepribadian, dan lainnya. Namun tentu saja, mereka yang berada dalam sebuah grup memiliki sebuah kesamaan, misalnya kesamaan hobi, kesamaan pekerjaan, kesamaan tujuan, dan lain-lainnya. Ada kalanya, lingkungan dibentuk dari kesamaan aktivitas, misalnya sama-sama bermain sebuah permainan tertentu. Tentu saja bermain bersama jauh lebih menyenangkan daripada bermain sendirian. Banyak permainan digital / game yang membuat orang berkenalan di dunia maya dan akhirnya menjadi sahabat di dunia nyata, dan sebaliknya. Aktivitas pun tidak harus bertemu secara fisik, bisa jadi bertemu dalam game, atau bersaing dalam menjadi yang terbaik dalam permainan.

Game adalah salah satu media atau alternatif untuk seseorang bermain dengan hobi dalam bentuk virtual. Hampir dari semua hobi yang ada dapat dituangkan menjadi konten sebuah game. Fotografi, Wisata, Kuliner, atau berolahraga pun bisa dibuat lingkungannya secara virtual. Tahu Bulat adalah salah satunya. Game terkenal dari Own Games yang bertemakan kuliner dan relevan dengan kondisi di masyarakat. Berawal dari fenomena penjual tahu bulat yang sangat ramai di lingkungan masyarakat, dengan suara khasnya “tahu bulat digoreng dadakan, lima ratusan”, membuat Own Games berinisiatif untuk menuangkan tahu bulat menjadi konten dalam sebuah game. Dari awal dirilis sampai sekarang game Tahu Bulat sudah didownload lebih dari 5 juta pengguna Android di Play Store. Bahkan sekarang sudah ada Tahu Bulat 2 yang merupakan sequel dari Tahu Bulat yang pertama dan game-game sejenis yang bertema clicker.

Selain Tahu Bulat, game lain yang sangat fenomenal pada awal peluncurannya adalah Pokemon GO, game dari Niantic, Inc. ini sangat melekat di hati para pemainnya. Beda dengan Pokemon yang kita kenal sebelumnya, Pokemon GO ini dikemas dengan teknologi Augmented Reality yang memungkinkan pemainnya untuk berimajinasi menjadi seorang Pokemon trainer. Game ini memaksa pemainnya harus berjalan untuk mencari dan menangkap Pokemon di lingkungan sekitar untuk dikoleksi dan bisa ditarungkan dengan Pokemon lain. Banyak grup-grup yang akhirnya terbentuk dengan alasan “berburu pokemon bersama” atau “share lokasi pokemon”.

Masih segar juga di ingatan kita tentang fenomena Om Telolet Om yang juga dibungkus oleh Developer Game Lokal Indonesia (GLI) asal Cimahi dan beberapa game developer lain. Setiap game tentu memiliki sumber ide dan sekaligus penggemarnya masing-masing. Dari cerita-cerita lokal yang terjadi di keseharian kita, dapat menjadi inspirasi game maupun sebaliknya, game dapat menjadi pembentuk komunitas atau grup. Hidup dapat menjadi lebih berwarna melalui game dan, bahkan kita dapat bertemu kawan-kawan baru yang berawal dari game yang sama.

 

” Life is a dream for the wise, a game for the fool, a comedy for the rich, a tragedy for the poor. ” – Sholom Aleichem

 

Jadi, tunggu apa lagi? Submit game terbaikmu di DBS Live More Society: Developer Challenge oleh Bank DBS Indonesia. Klik http://go.dbs.com/devchallenge untuk informasi lebih lanjut dan dapatkan ratusan ribu Dicoding Points untuk para pemenang.

 

Share this:

Chief Innovation Officer - Dicoding Indonesia, dapat dikontak melalui alamat email : yoza[at]dicoding[dot]com

Leave a comment