Aplikasi Pendidikan untuk Tunanetra Karya Pemuda Sumbawa

Aplikasi Pendidikan untuk Tunanetra Karya Pemuda Sumbawa –

Lewat aplikasi pendidikan buatannya, pemuda Sumbawa yang satu ini baru saja menyandang titel bergengsi “Expert Developer on Education Impact Application” lewat Dicoding Challenge 2019  

Gusti Ngurah Mertayasa nama lengkapnya. “Gus” panggilannya sehari-hari. Ia duduk di semester 8 Universitas Bumigora, Mataram. 

Apa istimewanya aplikasi pendidikan buatannya hingga dinobatkan jadi pemenang di Dicoding Challenge? 

Aplikasi Pendidikan: Aplikasi Pembaca Soal Matematika (APSM) 

Ia menamakan Android App-nya Aplikasi Pembaca Soal Matematika (APSM). APSM ini adalah proyek tugas akhirnya yang tak lama lagi ia presentasikan di sidang kelulusan. 

Bagaimana kisah awalnya Gusti membuat aplikasi pendidikan ini? 

Semua berawal dari keikutsertaan Gus dan kedua rekannya -Jaka dan Rista- dalam kompetisi Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional, Yogyakarta 2018. Sebelum bersaing di lomba dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI ini, mereka menemukan fakta miris. Siswa tunanetra kerap kesulitan mengikuti  ujian. Harga  naskah soal dalam braile sangat mahal hingga mencapai Rp 500,000,- per eksemplar

Karena itu, Gus dan tim kampusnya mengangkat “Exread” yaitu aplikasi untuk membaca soal-soal mata pelajaran umum untuk tuna netra.  Saat membawakan Exread di depan dewan juri, mereka dapat masukan: “Kenapa tak kalian buat saja aplikasi khusus pembaca soal matematika untuk tuna netra? Itu lebih spesifik.” 

Aplikasi Pendidikan

Gus (kedua sebelah kiri) bersama tim dan peserta PIMNAS 2018 lainnya

“Ujung-ujungnya kalah sih hehe. Lawan kami hebat-hebat dari kampus terkenal. Tapi dari situ saya dapat ide untuk skripsi saya!” kenangnya sambil terkekeh. 

Bagaimana Aplikasi Pendidikan ini Bekerja? 

Setahun terakhir Gus menggarap aplikasi inklusif ini untuk skripsinya. Pemuda 23 tahun ini makin termotivasi setelah tahu lebih dalam perihal sulitnya sahabat tunanetra saat mengerjakan soal matematika. Seperti apa? 

Banyak fungsi matematika yang susah diterjemahkan ke dalam naskah braile. Alhasil, soal yang tersaji di braile kerap membingungkan tunanetra. Siswa jadi sulit menjawab pertanyaan. Hasil ujian matematika mereka pun anjlok.

Gus yakin APSM dapat mengatasi persoalan tersebut. Untuk itu ia mendesain aplikasi ini agar dapat dipakai oleh 2 orang users alias pengguna. 

 

Aplikasi Pendidikan

Pertama adalah pengawas ujian atau guru yang mendampingi. Guru menyiapkan peranti dan memastikan peserta siap masuk ke menu jawaban di dalam piranti. 

Kedua adalah user utama alias siswa tunanetra peserta ujian.  Saat masuk menu ujian, peserta menggunakan earphone untuk mendengarkan soal ujian. Hanya ada 3 menu utama layar di dalam aplikasi ini:   

  • “PLAY” untuk mulai membaca atau mengulang soal    
  • “NEXT” untuk lanjut ke soal berikutnya  
  •  “PREVIOUS” untuk kembali ke soal sebelumnya 

Mahasiswa Teknik Informatika ini mengaku pernah mencobakan APSM ke 3 siswa tunanetra. “Senang banget karya saya diapresiasi teman-teman,” ujarnya. Dari proses uji coba ini pula Gus mendapat masukan agar ponsel aplikasinya terintegrasi dengan alat semacam joystick. Ini bisa memudahkah sobat difabel dalam menjawab soal. Dengan joystick, ada permukaan yang diraba dan mudah ditekan. Sementara permukaan layar sentuh yang halus, kadang membingungkan siswa – bagian mana yang harus disentuh?

Terakhir, ia juga sempat memasukkan aplikasinya ini ke Local Challenge Dicoding berbarengan dengan Bekraf Developer Day di Mataram, namun gagal lagi. “Makanya saya senang dan nggak berharap menang di Dicoding Challenge bidang Pendidikan ini!” serunya. 

Motivasi Terbesar 

Cita-cita Gus jadi seorang Android Expert. Apa sih yang jadi motivasi terbesar Gus? 

“Jadi dulu saya ketemu Bang Sidiq (Sidiq Permana, Dicoding Expert) saat beliau mengajar di Sumbawa. Dengan jadi Expert, jadi bisa jalan-jalan keliling Indonesia, seperti beliau” ucapnya mantap. 

Ia mengaku bahwa bekalnya membuat aplikasi ini adalah kelas yang diambilnya di Dicoding. Lulus dari kelas Menjadi Android Developer Expert, Gus lanjut belajar di kelas Kotlin Android Developer Expert dan Menjadi Azure Cloud Developer.  

Istimewanya, semua kelas ia dapatkan dari hasil beasiswa. “Bersyukur bisa belajar gratis,” ucapnya. 

Gus merasa bangga karena inilah pertama kali karyanya diakui secara publik. Tak lama lagi  ia sidang skripsi. Kemenangan di Challenge memberikannya semangat lebih untuk menghadapi sidang yang dinanti-nanti. 

“Doakan lulus ya!” ujarnya. Ia mengaku ingin menseriusi pengembangan aplikasi ini sambil lanjut bekerja menimba pengalaman di perusahaan. “Saya ingin fokus berkarir di Android mobile programing untuk native,” tuturnya. 

Sertifikat dari Dicoding dan Panggilan Kerja 

Saat ditanya apa yang membedakannya dari teman-temannya di kampus yang tidak aktif di Dicoding, Gus simpel menjawab.

 “Dengan Dicoding, bedanya mungkin, saya ini lebih fokus dan cepat belajar. Jadi skill saya mungkin lebih update.”

  Member dari komunitas Lombok Dev  dan Bale Dev Sumbawa ini juga bercerita bahwa dengan Dicoding:   

“Belajar ngoding jadi lebih cepat karena materi benar-benar terstruktur dan dasar-dasar (pengetahuannya- red) pun kuat. Kalau otodidak, sebaliknya. Selain itu, dengan upload sertifikat Dicoding di LinkedIn saya jadi sering dapat telepon menawarkan lowongan pekerjaan developer.” 

Jadi bagi Gus menang Challenge dan dapat 2,000 Pts hanyalah bonus dari upayanya belajar dan menciptakan karya. “Points hadiahnya sudah saya redeem jadi kelas Jetpack Pro di Academy,” ujarnya bangga. 

Di LinkedIn Gus memang baru mengunggah ketiga sertifikat kelas Expert alias picodiploma-nya.  Seminggu terakhir ia menerima beberapa panggilan telepon. Perusahaan-perusahaan tersebut menawarkan pekerjaan di Jakarta dan Bandung. Tapi semua harus ditolaknya untuk saat ini karena masih menunggu sidang skripsi.

Kita doakan Gus agar segera lulus dan terus berkiprah mengembangkan aplikasi pendidikan yang inklusif ya !

Aplikasi Pendidikan untuk Tunanetra Karya Pemuda Sumbawa -end 


– Cek di sini
untuk mengunduh aplikasi APSM.
Lihat dan daftar di sini untuk Dicoding Challenges / kompetisi cipta karya App, terbaru.
Klik di sini / gambar di bawah untuk belajar mengembangkan Aplikasi Android, dari level Pemula hingga Pro.

Fase Belajar Android di Dicoding

 

Belajar mengembangkan aplikasi atau game dengan kurikulum yang telah divalidasi langsung oleh industri dengan Dicoding Academy.

Belajar di Dicoding Sekarang →
Share this:

Editor @ Dicoding