3 Alasan Mengapa Market Edukasi Menarik

Dalam artikel sebelumnya saya sempat memaparkan sebuah data bahwa 9% dari penduduk Indonesia adalah anak usia taman kanak-kanak, 27 juta murid sekolah dasar, dan hampir 10 juta anak usia sekolah menengah pertama. Kombinasi market ini (TK, SD, SMP) mencapai hampir 24% dari total penduduk Indonesia. Data tersebut merupakan data jumlah anak yang tercatat sekolah. Populasi anak usia sekolah (TK, SD, SMP) sebenarnya lebih besar dari itu. Dalam pembahasan selanjutnya “mereka” adalah anak usia TK, SD, dan SMP.

Lalu mengapa mereka adalah market yang menarik? Saya akan membahas mengenai pandangan saya pribadi soal gadget dan anak-anak dalam artikel selanjutnya. Tapi terlepas dengan pro dan kontra mengenai pemakaian gadget dikalangan anak, faktanya sangat sulit menjauhkan anak-anak dari gadget. Terlebih banyak orang tua justru berbangga bila anaknya mampu mengoperasikan gadget.

Nah daripada anak-anak tersebut mengkonsumsi konten yang tidak mendidik dan / atau buatan developer luar. Alangkah baiknya bila mereka mengkonsumsi konten buatan mendidik dan buatan developer Indonesia. Salah satu developer yang saya sangat hormati karena konsisten membuat konten edukasi yang mendidik untuk pasar TK adalah Educa Studio.

💻 Mulai Belajar Pemrograman

Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.

Daftar Sekarang

Ada tiga alasan mengapa market edukasi ini perlu segera digarap oleh developer Indonesia:

Alasan pertama adalah karena mereka adalah market consumer goods terbaik. Dalam satu dasawarsa terakhir, market consumer goods di Indonesia selalu tumbuh konstan 14% per tahun. Indonesia menikmati bonus demografi yang tidak didapat oleh negara seperti Jepang dan Eropa. Bahkan dalam situasi dimana Indonesia mengalami perlambatan ekonomi, market consumer goods Indonesia konon justru tumbuh 15%. Dengan market yang terus tumbuh para pemilik produk consumer goods membutuhkan media yang untuk mempromosikan produknya. Berdasarkan hasil riset yang dilakukan pada bulan Maret 2015 mayoritas penduduk Indonesia lebih banyak menghabiskan waktu didepan smartphone (rata-rata 3 jam 10 menit) dibandingkan TV (2 jam 29 menit). Riset tersebut menunjukkan bahwa media konvensional mulai ditinggalkan.

fmcg

Alasan kedua adalah karena mereka merupakan future generation. Setiap produk consumer goods harus memenangkan mindshare di generasi ini, karena mereka akan menentukan produk consumer goods mana yang akan menjadi pemimpin market di masa depan.

Alasan kedua adalah konten edukasi untuk market ini agak sulit dibuat oleh developer dari luar karena alasan efisiensi dan pemahaman terhadap local culture yang mana dalam hal ini tentu developer lokal lebih memiliki competitive advantage.

Apakah kita sebagai developer lokal akan mengambil peluang ini?

Sampaikan pendapat Anda dalam kolom komentar.


Belajar Pemrograman Gratis
Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.