7 Langkah Membangun Produk Mobile

Saya pernah membuat lebih dari 100 aplikasi mobile. Ada yang 5 juta download, namun juga tak jarang ada yang hanya beberapa ribu download saja. Kali ini saya ingin membagikan pengalaman saya membangun produk agar bisa menjadi manfaat bagi teman-teman. Bagi saya pribadi, produk dan aplikasi adalah dua hal yang berbeda. Produk memiliki user, sedangkan aplikasi belum tentu punya user, selain Anda sebagai pembuatnya. Dalam artikel ini, saya akan jabarkan bagaimana membuat produk mobile dalam 7 langkah mudah:

(1) Membangun Visi Anda

Kelihatannya ini sepele, tapi ini yang akan menjadi fondasi dari apa yang Anda lakukan kedepannya. Membangun produk bukan perkara yang mudah dan visi ini yang tentunya akan menjadi perekat agar tim Anda tetap fokus pada hal utama yang ingin diraih. Saat tim Anda jenuh, visi ini yang akan mengingatkan bahwa ada hal yang ingin dituju. Visi ini bisa dalam satu kalimat sederhana, misalnya saya ingin menjadi ubernya tukang ojek atau misalnya memajukan Indonesia dengan aplikasi edukasi.

(2) Membangun Tim

Dalam bisnis konvensional (non digital), dua tahun adalah waktu untuk validasi bisnis dan dua tahun selanjutnya adalah untuk validasi partner bisnis Anda. Pengalaman saya pribadi, cycle dalam bisnis digital masing-masing adalah 1 tahun. Tahun pertama adalah validasi bisnis dan hubungan antara partner biasanya akan baik-baik saja. Biasanya masuk tahun kedua setelah bisnis Anda validated, partner akan mulai galau. Point pertama lah yang akan menjadi perekat dan tentunya manajemen ego adalah hal yang sangat penting agar visi menjadi hal yang lebih utama. Setelah dua tahun berjalan, biasanya masa kritis startup sudah terlewati. Bagi saya pribadi, kombinasi visi dan tim adalah dua hal yang sangat berharga, jauh lebih berharga daripada produk itu sendiri.

(3) Market Opportunity

Indonesia adalah market yang sangat menarik. Negara ini memiliki 255 juta penduduk dan hampir 100 juta smartphone yang beredar di tahun 2015. Konon kita sudah menjadi peringkat 9 download terbesar di Google Play dengan growth device 2x dan growth install 1.7x. Statistik yang menarik adalah new buying user yang naik 3x dengan spending apps yang naik 2x dari tahun lalu. Indikator yang lain adalah ramainya publisher dan top developer luar yang datang ke Indonesia ingin melokalisasi (translate) aplikasi mereka ke Bahasa Indonesia. Praktek ini terbukti menaikkan jumlah download hingga 2x.

(4) Find The Problem

Saat bicara aplikasi banyak developer senang melakukan asumsi terhadap solusi yang akan dibuat. Ingat bahwa apa yang Anda akan buat adalah untuk membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi calon user yang menjadi target. Aplikasi yang sukses berevolusi menjadi produk rata-rata menyelesaikan masalah dasar dari usernya. Asumsi memang perlu untuk mengembangkan fitur setelah masalah dasar dari calon pengguna terselesaikan. Bagaimana agar bisa mendapatkan masalah dasar? Jangan hanya berasumsi didepan laptop Anda saja. Turun ke lapangan dan eksplorasi langsung apa yang menjadi kendala. Sangat perlu untuk bergaul intensif dengan pengguna maupun calon pengguna produk kita.

(5) Define Solution

Setelah mendapatkan masalah yang ingin diselesaikan, baru kita definisikan solusi teknologi yang akan dikembangkan.

7langkah

Biasanya yang terjadi adalah teknologi dulu yang dibuat, baru mencari masalah apa yang akan diselesaikan dengan teknologi tersebut. Pendekatan tersebut menurut saya kurang tepat dan seringkali membuat kita menjadi terjebak dalam modifikasi solusi ditengah jalan yang tentunya akan menghabiskan energi cukup tinggi. Mayoritas developer lebih senang membuat ulang, daripada mengubah.

(6) Define Revenue Model

Saya termasuk penggemar potong pulsa dan senang sekali melihat fakta bahwa di Android semua operator besar sudah mendukung potong pulsa. Konversi potong pulsa di negeri ini mencapai 10x bila dibandingkan dengan transaksi dengan kartu kredit. Model bisnis yang lain adalah ads yang tentunya membutuhkan retention yang cukup tinggi, aplikasi harus sering digunakan oleh user dan contoh yang cukup sukses adalah Educa Studio. Model bisnis terakhir adalah valuasi, terserah mau untung atau tidak yang penting pertumbuhan. Mengingat saya bukan tipe pebisnis yang terakhir, jadi knowledge saya dibagian ini gak terlalu dalam.

(7) Luncurkan

Hal yang paling enak dan harus kita syukuri dari bisnis digital adalah kita bisa launching karya kita dari atas kasur kesayangan tanpa harus membuat event press conference dan berjibaku dengan indahnya kemacetan ibukota. Inti dari launching adalah mendapatkan momentum besar untuk discoverability. Hal yang paling mendukung agar aplikasi developer mendapatkan discoverability adalah dengan app highlight. App highlight bisa didapatkan dari pemilik app store maupun dari media dalam bentuk review. Untuk mendapatkan yang pertama biasanya dibutuhkan kredibilitas dan pemilihannya cukup random. Sedangkan untuk yang kedua sebenarnya semua developer bisa mendapatkannya. Jika Anda tidak memiliki relationship dengan media atau memiliki kemampuan untuk menuliskan press release dengan bahasa media maka tidak perlu pusing. Silahkan submit aplikasi yang akan diluncurkan ke challenge ini.

Semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi teman-teman yang saat ini sedang mencari formula mengenai langkah yang harus dilakukan. Formula ini tidak 100% jitu dan akurat tapi berdasarkan pengalaman pribadi dan ratusan top developer yang tergabung dalam dicoding. Kritik dan saran silahkan dialamatkan ke @narenda.

Belajar mengembangkan aplikasi atau game dengan kurikulum yang telah divalidasi langsung oleh industri dengan Dicoding Academy.

Belajar di Dicoding Sekarang →
Share this:

Co-Founder Dicoding